Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Kementerian Desa Dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, Banyuwangi mengaku sangat siap dengan digitalisasi Pertanian. Sebab di era sekarang ini jika pemasaran dilakukan secara konvensional, petani akan tertinggal dari kemajuan zaman. Untuk itu pihaknya memanfaatkan teknologi yang sudah ada untuk mempermudah ekonomi kita. Sehingga petani tidak hanya berhubungan dengan tengkulak saja.
"Banyuwangi sangat siap dengan digitalisasi Pertanian. Apalagi memiliki bupati yang visioner di segala bidang," ujar Samsul Widodo saat memberikan kuliah umum di Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Senin (24/9/18).
Potensi digitalisasi pertanian di Banyuwangi sangat bagus. Sebab Banyuwangi punya potensi yang tinggi. Dari sisi infrastruktur Banyuwangi sudah siap. Apalagi pihaknya melihat Pemkab Banyuwangi sangat progresif dan tidak semua kabupaten punya bandara yang bisa didarati jet. Tinggal bagaimana mereka dilatih untuk mengenal dunia digital.
Secara sederhana, lanjutnya, Petani semua punya anak yang masih usia SMA atau kuliah. Mereka bisa membantu mengambil foto kemudian meng-upload-nya. "Itu sebenarnya yang kami coba buka bagaimana petani bisa akses ke teknologi. Tinggal channeling saja," tambahnya.
Menurutnya, perguruan tinggi yang punya incubator bisnis yang bisa membantu mengadministrasi dan mengkurasi. "Sehingga, jika Petani buah naga harus diajari untuk bikin kripik. Mahasiswa turun ke lapangan untuk membantu petani mengenal dunia digital. Rektor bisa berkoordinasi dengan bupati. Kolaborasi inilah yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah," tegasnya.
Sementara Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya menargetkan dari 217 desa yang ada seluruhnya akan tersambung jaringan fiber optic pada 2018. Hingga September sudah 172 desa terinstalasi dan tersambung jaringan tersebut.
"Tujuannya jelas efektivitas dan efisiensi pelayanan menjadi tujuan utamanya, karena sebagai Kabupaten yang fokus pada pariwisata pelayanan terhadap wisatawan dan masyarakat Banyuwangi harus betul-betul sesuai dengan kebutuhan era milenial yang harus cepat juga akurat," kata Bupati Anas.
Pemasangan seluruh jaringan fiber optik sudah dilakukan perencanaan sejak dirinya terpilih sebagi bupati pada 2010 lalu. Masifnya dikerjakan mulai 2012 berbarengan dengan target pemasangan sedikitnya 2 ribu titik jaringan wifi di seluruh Banyuwangi.
"Tinggal saat ini mahasiswa dan perguruan tinggi memanfaatkan fiber optic di desa-desa. Bagaimana membantu petani dalam mendigitalisasi pertanian. Selain pariwisata, Banyuwangi juga sangat fokus terhadap pertanian," pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Untag 1945 Banyuwangi Andang Subaharianto menyatakan kedepan ekonomi digital itu adalah keniscayaan. Untuk itu agar tahu lebih baik bagaimana posisi kita sekarang dan ke depan apa tantangan dan problematikanya sehingga pihaknya mengundang Dirjen PDT Kementerian Desa dan PDT memberikan pencerahan. "Karena pak Dirjen punya kompetensi untuk menjelaskan," ujarnya.
Menurutnya, Indonesia punya produk terkait dengan agro komplek mulai dari perikanan, peternakan, dan pertanian. Ini tidak mungkin tidak di-digital-isasikan karena memang sudah tuntutan jaman. Seringkali, kata Dia, ada keluhan petani dan peternak, sering tidak mendapatkan keuntungan yang tidak memadai. Ini dikarenakan ada rantai pemasaran yang bermasalah. "Karena ini ekonomi konvensional maka kedepan perlu bergeser ke ekonomi digital," tegasnya.
Tonton juga 'Ratusan Pengendara Harley Mengaspal dan Berjoget di Banyuwangi':
(fat/fat)











































