Gelar 1 Muharam, Nelayan Pacitan Gelar Sesaji dan Lomba Jala Ikan

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Selasa, 11 Sep 2018 15:29 WIB
Foto: Purwoto Sumodiharjo
Pacitan - Puluhan pria berpakaian serba hitam. Tampak pula ikat kepala berwarna serupa melengkapi kostum yang mereka pakai. Sementara kaki mereka dibiarkan telanjang, tanpa alas.

Selama beberapa saat mereka berdiri dalam diam. Sementara tangan mereka menyangga erat aneka sesaji. Ada nasi kuning, olahan lauk, buah-buahan dan beberapa jenis makanan lain.

Di posisi terdepan seorang pria memegang anglo (tungku kecil berbahan tanah liat). Dia adalah Edi Sinyo, tokoh spiritual. Dari bagian atas anglo asap terus mengepul, menyeruak menebar aroma wangi dupa. Bau itu berasal dari kemenyan madu yang ditebar di atas bara.

Rangkaian kalimat dalam Bahasa Jawa Kuno terdengar berkumandang dari pengeras suara. Rupanya itu menjadi penanda dimulainya acara. Warga setempat menyebutnya Ngambu (ngabekti marang bumi) Pancer.

Setapak-demi setapak iring-iringan bergeser meninggalkan pelataran Kampung Srono Jolo. Srono Jolo adalah sebutan untuk kawasan di ujung timur Teluk Pacitan. Wilayah itu juga akrab dengan sebutan Pantai Pancer.


Selain menjadi lokasi mendaratkan perahu, daratan dengan pemandangan asri ini juga menjadi tempat mangkal nelayan penjala ikan.

Setibanya di bibir pantai iring-iringan berhenti. Dua umbul-umbul merah putih ditancapkan di ujung barat dan timur. Sementara semua yang hadir diminta duduk bersila.

Sikap yang sama sudah lebih dulu dilakukan para pria sebagian besar nelayan. Mereka menghadap ke selatan tempat ombak Samudera Indonesia tak henti bergulung.

Saat semua orang terdiam, mulut Edi terus komat-kamit. Pria dengan rambut dikuncir rapi itu seperti tengah membaca mantra.

Sementara kedua tangannya berkali-kali mengangkat dupa berbentuk lidi warna merah. Beberapa batang dupa juga dia tancapkan di antara sesaji yang diletakkan di hamparan pasir.


Tak lama berselang, 3 perempuan muncul di depan hadirin. Mereka mengambil posisi hanya beberapa meter dari bibir pantai. Bahkan beberapa kali empasan ombak menyapu kaki-kaki telanjang itu.

Toh hal itu tak menyurutkan semangat mereka menari. Seakan menyatu dengan rangkaian mantra, kepul asap dupa, dan debur ombak samudera. Bersamaan berakhirnya tarian, Edi dan 2 pria lain bangkit dari duduk bersila.

Mereka bergegas menuju laut sembari membawa nampan berisi bunga dan sesaji. Benda-benda tersebut lantas dilempar ke perairan saat gelombang tinggi menghampiri.

"Di antara sesaji tadi ada yang namanya Sego Asahan. Itu wujud penghormatan kepada bumi atau ibu pertiwi," kata Edi terkait kegiatan yang baru saja selesai dipimpin kepada detikcom, Selasa (11/9/2019).

Menurut Edi, bumi tempat manusia berpijak pada hakikatnya adalah ibu. Seperti halnya ibu yang melahirkan kita, lanjut dia, alam semesta juga tak henti mencurahkan kasih sayang kepada seisi dunia.


"Yang jelas kita mohon kerahayuan (keselamatan) jagad. Minta keselamatan dan pengayoman," imbuh pria yang dikenal pakar meracik makanan.

Usai prosesi Ngambu Pancer, semua orang lantas bergeser ke arah timur. Puluhan nelayan sudah bersiap diri dengan jala melingkar di pundak. Mereka adalah peserta Lomba Menjala Ikan yang digelar komunitas Srono Jolo.

Di antara para peserta yang sudah siap menebar jala, tampak pula Bupati Indartato, Kapolres Pacitan, dan Kasdim 0801. Mereka mendapat kesempatan perdana melempar jaring berbentuk lingkaran itu. Tepuk tangan pun menyertai pemandangan unik itu.

"Menjala ini adalah kearifan lokal yang menurut saya luar biasa karena tidak merusak lingkungan. Oleh karena itulah kegiatan seperti ini perlu dilestarikan," ujar Pak In yang celananya tampak basah hingga betis.

Kegiatan lomba menjala sendiri yang sudah memasuki tahun ketiga diikuti puluhan nelayan. Tak hanya dari wilayah setempat, banyak pula warga luar kecamatan yang sengaja datang menyemarakkan kegiatan. Untuk peserta dengan tangkapan terbanyak panitia menyediakan hadiah jutaan rupiah. (fat/fat)