Begini Ritual Warga Ponorogo Saat 1 Suro

Charolin Pebrianti - detikNews
Selasa, 11 Sep 2018 13:57 WIB
Warga larung gunungan di telaga/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Warga Ponorogo menggelar tradisi larung sesaji. Tradisi tersebut merupakan tradisi tahunan yang telah dilaksanakan secara turun temurun.

Acara diawali dengan mengarak gunungan sesaji berisi jajanan pasar, makanan tradisional dan buah-buahan. Gunungan sesaji diarak warga Desa/Kecamatan Ngebel, dari gedung serbaguna desa setempat dan berkeliling Telaga Ngebel. Di telaga, gunungan sesaji atau yang biasa disebut buceng ini bakal dilarung.

Yang paling mencolok dalam buceng tersebut adanya bentuk naga sebagai simbol Telaga Ngebel. Adanya kisah Naga Baru Klinting yang menjadi awal mula terjadinya Telaga Ngebel.

Total ada 10 buceng yang diarak keliling telaga, 2 buceng besar dan 8 buceng kecil. 2 Buceng besar salah satunya dilarung dan satu lagi untuk dipurak atau dibagikan kepada warga bersama dengan 8 buceng kecil.

Sebelum diberangkatkan, warga menggelar doa bersama berharap ada keberkahan dari kegiatan yang digelar. Arak-arakan dilakukan mulai dari para penari pembawa buceng. Sesampainya di dermaga, para penari reog, penari gambyong pun menampilkan keahliannya. Selanjutnya, sesaji diangkut menggunakan sampan diiringi perahu kecil lain berisi warga setempat dan para sesepuh.


Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengatakan kegiatan itu sudah menjadi tradisi warga setempat dan akan tetap menjadi sakral hingga turunan selanjutnya. Warga percaya dengan melaksanakan kegiatan tersebut, Desa Ngebel akan terbebas dari segala bentuk mara bahaya.

"Ini bentuk tradisi masyarakat yang terus dijaga demi anak cucu kita nanti sebagai pengetahuan cikal bakal adanya telaga Ngebel," tutur Ipong dalam sambutannya, Selasa (11/9/2018).

Ipong menjelaskan tradisi larung sesaji ini sudah ada sejak dahulu kala sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas karunia Tuhan. Buceng pun berisi berbagai macam makanan, mulai dari jajanan tradisional, buah, sayur dan lain-lain. Sengaja tahun ini, kami bentuk bucengnya ada gambar naga sebagai simbol telaga Ngebel," papar dia.

Menurutnya, proses larung ini sebagai simbol melarungkan hal-hal yang tidak baik. Sekaligus berharap ke depan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. "Ini juga sebagai simbol menyapa atau mengingat kembali yang mbaurekso (penunggu,red) sini," terang dia.

Usai sesaji dilarung, ratusan warga yang ikut berangkat dalam proses larung langsung menyerbu buceng yang sudah dilepas di tengah laut. Tak lupa 9 buceng lainnya pun tak luput dari serbuan masyarakat. Mereka berharap dengan mendapatkan bagian dari buceng bisa ngalap berkah. (fat/fat)