Meriah, Kirab Hari Jadi Ponorogo Diwarnai Jamasan Pusaka

Charoline Pebrianti - detikNews
Senin, 10 Sep 2018 20:39 WIB
Foto: Charoline Pebrianti
Ponorogo - Peringatan HUT ke-522 Ponorogo yang jatuh pada 10 September berlangsung meriah. Ribuan masyarakat antusias mengikuti rangkaian prosesi mulai dari kirab pusaka hingga rebutan tumpeng purak.

Puncak peringatan hari jadi diawali dengan kirab pusaka Ponorogo. Berupa Sabuk Cinde Puspito, Payung Songsong Tunggul Wulung dan Tombak Tunggul Nogo. Acara kirab pusaka ini digelar sebagai acara perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo dari Kota Lama menuju Kota Baru berlangsung meriah, Senin (10/9/2018).

Sejak pukul 13.00 WIB, seluruh jalan protokol yang menjadi rute kirab pusaka mulai dari tempat makam Batoro Katong menuju Paseban Alun-Alun Ponorogo dipadati puluhan ribu warga Ponorogo dan luar Ponorogo.

Setibanya di Paseban Alun-Alun ketiga pusaka itu dijamas (dimandikan). Tombak dan payung yang ujungnya merupakan mata tombak, keduanya dijamas dengan air bunga telon dan air yang diambil dari 7 sumber air di Ponorogo. Di antaranya sumber air gunung Kucur, sumber air telaga Ngebel, sumber air Masjid Tegalsari (tertua) dan sejumlah mata air lainnya.


Usai dijamas, pusaka dikembalikan bersama Cinde untuk disemayamkan di dalam Kantor Bupati Ponorogo. Sedangkan air sisa jamasan langsung dijadikan rebutan ribuan warga Ponorogo karena diyakini air tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit, membuat awet muda, gampang jodoh serta bagi pejabat bisa menaikkan pangkat dan derajatnya.

Arak-arakan ini juga dimeriahkan dengan adanya tradisi berburu apuah atau berkah dari Bupati dan istrinya saat prosesi kirab pusaka dengan mengendarai kereta kencana.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menjelaskan acara ini sebagai wujud pelestarian budaya yang harus tetap dijaga sekaligus memberitahukan sejarah berdirinya Kabupaten Ponorogo kepada masyarakat dan para wisatawan.

"Saya ingin mengucapkan syukur dari awal hingga akhir acara Grebeg Suro semua berjalan lancar hingga penutupan ini," tutur Ipong.


Bapak tiga orang anak ini menambahkan tujuan utama dilakukan kirab pusaka ini sebagai wujud nyata memelihara tradisi. Sekaligus napak tilas berdirinya Ponorogo.

"Sekarang istilah 'jaman now' diharapkan dengan mengangkat tradisi bisa menjadi daya tarik wisatawan luar Ponorogo," jelas dia.

Tak lupa ia pun mengapresiasi masyarakat Ponorogo yang turut bahagia dan senang dalam acara tahunan ini. "Tidak ada masyarakat yang cemberut atau sedih, semuanya nampak tersenyum itu tandanya bahagia. Saya bisa melihat masyarakat bahagia dengan acara semacam ini sekaligus melihat sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Kota Lama ke Kota Baru," papar dia.

Di sisi lain dalam momen puncak hari jadi ini Ponorogo juga mendapatkan kado spesial, sebab pesilat terbaiknya Aji Bangkit Pamungkas (19) berhasil mendapatkan medali emas dalam ajang Asian Games 2018.

Sebagai penutup rangkaian prosesi, warga yang ada di lingkar Paseban saling berebut tumpeng raksasa dan air bekas jamasan pusaka. Warga berharap dengan ulang tahun ini Ponorogo bisa lebih maju di masa mendatang. (iwd/iwd)