Rawan Konflik, Ini Cara Polisi Madiun Amankan Tradisi Suroan Pesilat

Sugeng Harianto - detikNews
Minggu, 09 Sep 2018 14:01 WIB
Foto: Sugeng Harianto
Madiun - Tradisi suroan yang digelar para pesilat di Madiun pada bulan Muharam, rawan diwarnai konflik horisontal. Upaya antisipasi pun dilakukan polisi agar tak terjadi pertikaian antar perguruan silat.

Salah satu upaya antisipasi tersebut dengan mengeluarkan larangan kepada pesilat menggelar konvoi di jalan. Biasanya para pesilat secara bergerombol menggunakan sepeda motor berziarah ke makam leluhur dan tokoh mereka.

"Boleh menyekar (berziarah) tapi harus menggunakan kendaraan tertutup," jelas Kapolres Madiun AKBP I Made Agus Prasatya saat dihubungi detikcom, Minggu (9/9/2018).

Agar larangan tersebut dipatuhi, Made mengaku telah memanggil tokoh yang dituakan di masing-masing perguruan silat di Madiun.

"Kami berikan arahan agar saat ziarah ke makam leluhur untuk semua perguruan silat tidak menggunakan kendaraan terbuka. Semua wajib kendaraan tertutup," tegasnya.

Untuk pengamanan acara malam 1 suro dan hari H, yakni 10-11 September 2018 oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), kata Made, pihaknya menerjunkan 1.298 personil.

"Akan kami sebar di masing-masing wilayah ada 15 Kecamatan. Semua kegiatan di ranting PSHT juga tetap pemantauan," ujarnya.

Kapolresta Madiun AKBP Nasrun Pasaribu menuturkan, wilayah hukumnya bakal menjadi titik kumpul para pesilat untuk menggelar tradisi suroan. Tak ayal ribuan pesilat akan menuju ke Kota Brem ini. Ribuan personil pun akan diterjunkan untuk memastikan tradisi suroan berjalan aman.

"Kami telah koordinasi dengan seluruh jajaran Polres Madiun Kota/Kabupaten, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan juga tambahan Nganjuk kami libatkan di masing-masing jalur perbatasan," terangnya.

Hal itu tak lepas dari hasil pemetaan titik rawan terjadinya gesekan antar perguruan silat. Meliputi wilayah Nglames, Jiwan serta Tean yang merupajan jalur pintu masuk ke Kota Madiun. (fat/fat)