"Tajem ini merupakan ajang yang menjadi bagian dari budaya Jember. Ajang persatuan dan ajang silaturahmi, bukan hanya ajang olahraga," ujar Faida kepada wartawan di Alun-Alun Tanggul, Sabtu (8/9/2018).
Faida berharap gerak jalan dengan jarak tempuh sekitar 31 km ini bisa berjalan tertib. Sehingga bisa menjadi contoh untuk even-even yang lainnya.
"Saya berharap kali ini Tajemtra bisa lebih rapi, lebih tertib, sehingga bisa menjadi teladan bagi even-even yang lainnya," kata Faida.
Dia juga mengaku senang karena peserta Tajemtra tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat dalam mengikuti gerak jalan ini sangat tinggi.
"Kalau tahun lalu tujuh ribu sekian, tahun ini 8.352 peserta. Dan masih banyak lagi karena ada peserta yang tidak mendaftar tapi mengikuti. Saya bangga karena sejatinya ini merupakan wujud antusiasme masyarakat dalam rangkaian memperingati Kemerdekaan RI yang ke-73," papar Faida.
Dia juga mengatakan Tajemtra kali ini menjadi sangat inklusi, karena juga diikuti oleh penyandang disabilitas. Ini menunjukkan kekurangan dan kelemahan bukan menjadi alasan untuk tidak beprestasi dan berkarya.
"Saya apresasi, saya bangga untuk para peserta difabel, mudah-mudahan kita semua kuat sampai di finish," ujarnya.
Selain itu, Tajemtra kali ini juga diikuti sejumlah lansia yang usianya di atas 72 tahun. Bahkan ada peserta tertua dengan usia yang mencapai 105 tahun.
Bupati Faida sendiri bersama Forkopimda Jember juga ikut dalam gerak jalan yang digelar rutin setiap tahun ini. Mengambil start di alun-alun Kecamatan Tanggul, peserta akan mencapai garis finish di Alun-Alun Kota Jember.
Saksikan juga video 'Ramai Perbincangan Aturan Sejoli Bukan Mahram Dilarang Ngopi Semeja':
(fat/fat)










































