Dengan ajian pancasona, seseorang disebut akan bisa hidup kekal abadi hingga hari kiamat tiba. Seorang dengan ajian ini dikatakan hanya akan mati jika tubuhnya dipisah menyebrangi sungai dan digantung agar tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, bagian-bagian tubuh tersebut dapat kembali bersatu, dan orang yang memiliki ajian ini bisa hidup lagi.
"Eyang Djojodigdo dikabarkan pernah meninggal sehari tiga kali. Tapi tiap saat akan dikuburkan , begitu jasadnya menyentuh tanah itu langsung bangkit, hidup lagi," ungkap juru kunci makam, Lasiman (70) kepada detikcom di lokasi makam, Jalan Melati no 43 Kota Blitar, Rabu (5/9/2018).
Beliau bisa meninggal, lanjut Lasiman, karena ilmu Pancasona yang diambil sang guru yang memberi ilmu itu.
"Guru beliau itu Kyai Imam Sujono atau Eyang Jugo. Beliau meninggal di usia 84 tahun saat sakit sepuh (usia tua). Lalu karena kerabatnya kasihan, dimintakan eyang Imam Sujono untuk mengambil kembali ilmu Pancasonanya," jelasnya.
Warga yang tidak paham cerita itu, lanjutnya, beranggapan jika Eyang Djojodigdo akhirnya dimakamkan dengan posisi menggantung, agar tak hidup kembali. Padahal menurut Lasiman, posisi makam Eyang Djojodigdo sewajarnya makam pada umumnya. Hanya saja, di atas pusaranya, memang digantung papan berbentuk empat payung semacam mahkota. Di tempat inilah, konon tersimpan ilmu Pancasona, baju kebesaran dan pusaka milik Eyang Djojodigdo.
"Ada salah satu buyut beliau yang sangat penasaran. Lalu membukanya. Tapi bilangnya, kosong gak ada isinya apa-apa ," kata pria sederhana ini.
Menurut Lasiman, semua benda yang disebutkan itu merupakan benda gaib. Tak kasat mata, karena hanya orang yang belajar atau mendalami ilmu gaib saja yang mampu melihat fisiknya.
Sedangkan empat payung semacam mahkota itu, jelas Lasiman, merupakan simbol pengayoman Eyang Djojodigdo bagi seluruh warga Blitar. Pengayoman itu menyebar dari empat penjuru mata angin. (iwd/iwd)