Cerita Sukses Warga Lamongan Ternak Lalat Tentara Hitam, Seperti Apa Sih?

Eko Sudjarwo - detikNews
Rabu, 05 Sep 2018 08:17 WIB
Lalat tentara hitam yang dibudidayakan warga Lamongan. (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Lalat identik dengan binatang yang menjijikkan dan membawa bakteri jahat atau penyakit. Namun binatang yang satu ini ternyata bisa dikembangbiakkan dan menghasilkan pundi-pundi uang lho.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Ismanto, warga Desa Kaliparan, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Namun Ismanto mengatakan yang dikembangbiakkannya bukan lalat biasa melainkan Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam.

"Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengurai sampah organik menjadi kompos, larva dari lalat jenis ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ikan, burung, reptil dan unggas," kata Ismanto ketika ditemui detikcom di rumahnya, Rabu (5/9/2018).

Pria yang telah membudidayakan lalat tentara hitam setahun terakhir ini mengatakan, kandungan protein dalam larva lalat jenis ini cukup tinggi, sehingga baik untuk pakan ternak. "Kalau larva, kandungan proteinnya antara 40 sampai 50 persen," tuturnya.


Ismanto mengaku, ide budidaya lalat tentara hitam ini muncul dari keinginannya untuk membuat pakan ternak murah.

"Awalnya saya dan teman-teman peternak ini pingin bagaimana caranya membuat pakan murah. Karena harga sentrat (pakan ternak jadi atau konsentrat, red) terus naik," ungkap Ismanto.

Cerita Warga Lamongan Beternak Lalat, Seperti Apa Sih?Ismanto dapat mengantongi omzet Rp 4 juta/bulan dari menjual larva dan telur larva lalat tentara hitam. (Foto: Eko Sudjarwo)

Ia pun belajar kepada sesama peternak yamg sudah lebih dulu membudidayakan lalat tentara hitam di Jabar. Setelah mantap, ia menghabiskan dana sekitar Rp 1 juta untuk menyiapkan segala keperluan budidaya.

"Biaya yang dihabiskan hanya untuk beli larva beberapa gram, yang kemudian ditetaskan," katanya.

Proses pembudidayaannya sendiri cukup sederhana. Lalat jenis ini dikembangbiakkan di tempat yang disebut nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipindahkan ke tempat yang berbeda untuk proses penetasan.

Setelah menetas dan berusia 5 hari, larva diletakkan pada sampah organik. Setelah 10 hari, maka larva tersebut sudah dapat dipanen. "Waktu panen, dapat menghasilkan sekitar 1 sampai 2 kg larva yang siap dijadikan pakan ternak," tuturnya.

Ismanto mengaku tak menemukan kesulitan saat budidaya lalat berarti karena didampingi langsung oleh rekan sesama peternak.

Cerita Warga Lamongan Beternak Lalat, Seperti Apa Sih?Tempat menetaskan telur larva lalat tentara hitam. (Foto: Eko Sudjarwo)


Untuk harga jual, larva lalat tentara hitam biasa dipasarkan seharga Rp 7 ribu per kilogram. Namun untuk larva yang dijual online, Ismanto mematok harga yang agak berbeda. Untuk tiap gramnya, larva lalat tentara hitam dijual seharga Rp 20 ribu karena sudah termasuk packing.

"Untuk pakan, larva dapat dicampur dengan bekatul untuk membuat pelet. Perbandingannya antara 600 gram larva dan 400 gram bekatul atau dedak untuk takaran 1 kg," jelasnya.

Selain dapat dipanen dalam bentuk larva, Ismanto juga mengaku dapat menjual telur larva dengan harga Rp 7 ribu pergram. "Biasanya perhari bisa sampai 70 sampai 90 gram telur. Bahkan juga bisa lebih dari 90 gram. Tapi telurnya ini nggak tentu, tergantung cuaca. Kalau lembab ya telurnya banyak, kalau panas ya telurnya berkurang," ujarnya.

Bahkan Ismanto mengaku pemasaran telur lalat ini telah diminati pembeli hingga di luar Lamongan hingga ke negeri seberang. "Yang beli telur ini juga banyak yang dari jauh, mulai Samarinda, Bima, Malaysia juga pernah. Karena telurnya ini juga kita jual di toko online," tandasnya.

Dari budidaya ini, Ismanto pun dapat mengantongi laba Rp 4 juta tiap bulannya. Wow, tertarik mencoba? (lll/lll)