DetikNews
Selasa 04 September 2018, 15:56 WIB

Tak Cuma Makam, di Museum Kematian Juga Ada Perpustakaan Kece

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Tak Cuma Makam, di Museum Kematian Juga Ada Perpustakaan Kece Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Tak hanya menampilkan berbagai bentuk makam dan tradisi pemakaman, di dalam Museum Kematian milik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya juga tersedia perpustakaan yang cukup keren.

Perpustakaan ini terletak di salah satu ruangan museum. Di dalamnya ada beberapa buku yang mempelajari ilmu antropologi seperti buku yang mempelajari kehidupan manusia purba dan buku-buku yang mengulas etnografi di Indonesia secara lengkap.

"Ini ada buku-buku tentang antropologi, tentang etnografi, dan manusia purba juga ada," kata salah satu pengurus museum, Desi Bestiana, saat ditemui detikcom, Selasa (4/9/2018).


Desain perpustakaan ini pun tak seperti perpustakaan pada umumnya. Tak ada rak khusus untuk tempat singgah buku, namun ada pipa-pipa bercat gelap yang disusun memanjang. Bedanya dengan perpustakaan pada umumnya, penerangan di perpustakaan ini juga dibuat remang-remang. Mengapa demikian?

Ternyata pengelola memang sengaja melakukannya. Pengunjung yang ingin menikmati buku-buku tersebut dapat di ruangan rekreasi yang disediakan di belakang museum. Di ruang itu terdapat kursi-kursi dan meja kayu yang bisa digunakan pengunjung untuk membaca buku.

Ruangan ini juga dapat dimanfaatkan untuk berdiskusi. "Jadi bacanya di belakang atau ruang rekreasi. Kalau mau terang, bisa nanti di belakang remang-remang atau di depan juga ndak apa," terang Desi.

Tak Cuma Makam, di Museum Kematian Juga Ada Perpustakaan KeceSejumlah koleksi buku antropologi di Museum Kematian. (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)


Hanya saja untuk menjaga keutuhan koleksi milik Departemen Antropologi, pengunjung hanya bisa membaca buku di lokasi saja.

"Kalau ada yang pingin baca bisa pinjam di ruang belakang rekreasi tadi. Ini hanya bisa dibaca di museum saja," tambah Desi.


Di perpustakaan ini, Desi mengatakan ada ratusan koleksi yang tersedia. Namun, tidak semua buku dipajang di museum. Biasanya pengurus museum akan mengganti-ganti koleksi secara berkala agar pengunjung juga tidak bosan.

"Ada 100 lebih lah bukunya, karena biasanya kita rolling dan enggak ini-ini terus bukunya," ujarnya.

Tak usah khawatir, bagi pengunjung yang tak suka baca buku, pengelola museum menyediakan keterangan lengkap tentang replika-replika makam yang ada. Keterangan ini juga dikemas menarik agar pengunjung betah berlama-lama membaca.


Selain perpustakaan, pengelola museum sendiri kerap mengadakan kursus antropologi forensik yang banyak diminati para mahasiswa.

"Kalau kunjungan tiap hari kebanyakan mahasiswa sini, kira-kira 30-40 orang dalam sehari, ndak tentu. Tapi yang biasanya paling banyak anak SMA. Ada juga kalau sekolah itu kunjungan ke fakultas terus biasanya mampir ke sini. Akhir-akhir ini cukup banyak karena banyak mahasiswa baru yang penasaran," tuturnya.

Tertarik untuk mampir? Museum Kematian buka hanya di hari aktif perkuliahan, yaitu hari Senin-Jumat pada pukul 10.00-15.00 WIB. Museum ini juga terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya alias gratis.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed