DetikNews
Selasa 04 September 2018, 12:49 WIB

Menengok Pernikahan Adat Ponoragan yang Mulai Tergerus Zaman

Charolin Pebrianti - detikNews
Menengok Pernikahan Adat Ponoragan yang Mulai Tergerus Zaman Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Banyak warga yang perlahan mulai meninggalkan pernikahan adat di daerahnya masing-masing. Biasanya karena alasan ribet dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menggelarnya. Namun seorang pegiat seni di Ponorogo ingin menghidupkan kembali pernikahan adat Ponoragan yang mulai tergerus zaman.

Adalah Sudirman (52), seorang pegiat seni di Ponorogo yang baru saja punya hajatan menikahkan anak sulungnya, Santi Prameswari (23), Selasa (4/8/2018).

Dalam pernikahan adat Ponoragan ini, rombongan pengantin pria memasuki halaman rumah pengantin wanita dengan dua orang sesepuh berpakaian penadon sebagai penunjuk jalan. Di belakangnya ada mempelai pria yang diapit kedua orang tuanya, disusul dengan beberapa orang sesepuh berpakaian muslim sembari membaca salawat.

Di belakang para sesepuh, ada rombongan pengiring pengantin pria yang membawa baskom seserahan atau 'mbecek'. Kemudian di barisan paling belakang ada kelompok kesenian reog, termasuk penari jathil laki-laki, perempuan dan 3 dadap merak sekaligus.


Menengok Pernikahan Adat Ponoragan yang Mulai Tergerus ZamanTarian Jathil Obyok (Foto: Charolin Pebrianti)

Setelah temu manten, prosesi pun diselingi dengan berbagai penampilan dari para penari, mulai dari Tarian Bujangganong oleh dua anak kecil putra, Tarian Jathil Obyok oleh 6 remaja putri, Tarian Jathil oleh 2 orang putra, Tarian Warok oleh 5 putra dan 3 dadap merak yang bergantian beratraksi.

Ketika ditanya apa maksud di balik pernikahan adat Ponoragan ini, Sudirman mengaku ingin melestarikan tradisi tersebut.

"Saya berkeinginan untuk memunculkan adat Ponorogo seperti waktu saya masih kecil kalau ada temanten. Orosesinya seperti yang kita lihat saat ini," terang Sudirman kepada detikcom saat ditemui di rumahnya Kelurahan Paju, Kecamatan Kota, Selasa (4/9/2018).


Menengok Pernikahan Adat Ponoragan yang Mulai Tergerus ZamanMenurut pengakuan Sudirman, kuade atau mahligai pernikahannya juga khas pernikahan zaman dulu. (Foto: Charolin Pebrianti)

"Kami pun memakai kuade atau tempat duduk pengantin khas jaman dulu," imbuhnya.

Dalam acara ini, Sudirman mengaku melibatkan 110 seniman, baik bertugas sebagai penampil ataupun pemain musik. Bapak dua anak itu pun tak berkeberatan meski harus merogoh kocek agak dalam untuk membiayai pernikahan putrinya.

"Saya berharap di tempat lain juga ada yang mau melestarikan adat pernikahan khas Ponoragan ini karena sekarang sudah dipastikan tidak ada yang seperti ini," paparnya.

Menengok Pernikahan Adat Ponoragan yang Mulai Tergerus ZamanTak ketinggalan reog berikut waroknya. (Foto: Charolin Pebrianti)


Sementara itu, sang mempelai wanita mengaku senang bisa ikut melestarikan kembali adat Ponoragan. "Karena bapak saya berkecimpung di dunia seni, jadi dibentuk seperti ini saya senang. Bisa mengetahui adat pernikahan jaman dulu seperti apa," tandasnya secara terpisah.

Salah satu pengiring pengantin Afinda Damayanti juga mengaku kagum dengan pernikahan khas Ponoragan yang sengaja diangkat kembali.

"Saya sangat kagum dan bahkan terheran-heran, pernikahan khas Ponorogo itu ternyata meriah sekali. Banyak penampilan unik dan keseniannya bagus diangkat kembali," tuturnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed