detikNews
Minggu 02 September 2018, 07:40 WIB

Nyadran ala Warga Suku Tengger, Ziarah Kubur dengan Pakaian Adat

M Rofiq - detikNews
Nyadran ala Warga Suku Tengger, Ziarah Kubur dengan Pakaian Adat Foto: M Rofiq
Probolinggo - Dengan membawa bunga tujuh rupa dan sesajen, ratusan warga Suku Tengger, Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, berbondong-bondong mendatangi kuburan umum desa setempat.

Mereka melakukan Tradisi Nyadran atau ziarah kubur di momen perayaan Karo tahun Saka 1940. Berbeda dengan ziarah kubur pada umumnya, dalam tradisi ini warga Tengger diwajibkan menggunakan pakaian adat saat berziarah.

Bagi warga Suku Tengger, Tradisi Nyadran merupakan acara yang cukup sakral karena menjadi upaya untuk mengingat mendiang leluhur mereka yang telah meninggal dunia.


Dikatakan Dewi Sartika, salah satu warga Suku Tengger, Tradisi Nyadran sudah dilakukan secara turun-temurun. Sebagai generasi muda, ia pun ingin terus melestarikan tradisi tersebut.

"Tentunya ini tradisi leluhur yang harus dipertahankan pak, agar tidak terkikis oleh kemajuan zaman," ungkapnya kepada detikcom, Sabtu (1/9/2018).

Nyadran ala Warga Suku Tengger, Ziarah Kubur dengan Pakaian AdatFoto: M Rofiq

Kepala Desa Jatek, Kermat menambahkan, Tradisi Nyadran warga Suku Tengger di desanya dilakukan di dua tempat terpisah. Lokasi pertama adalah di punden belakang Balai Desa Jetak. Sedangkan lokasi kedua adalah tempat pemakaman umum setempat.

"Jadi Nyadran ini selalu dilakukan warga, tujuannya yakni menjalin silaturahmi antara manusia yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia, agar tidak putus," terang Kermat.

Secara terpisah, Camat Sukapura, Yulius Christian menyampaikan, Tradisi Nyadran merupakan rangkaian acara terakhir dari hari raya Suku Tengger, yaitu Hari Raya Karo.


Berbeda dengan Nyadran yang dilakukan warga Suku Tengger di desa lainnya, di Desa Jetak, ritual ini disebut Nadzar.

Seperti halnya nazar dalam Islam, nazar yang diyakini Suku Tengger adalah ketika seseorang memiliki keinginan dan berjanji akan memberi sesuatu jika keinginan itu terkabul.

"Dan jika sudah terkabulkan keinginannya, tentunya orang bersangkutan harus menepati janji pemberiannya. Biasanya sih bisa seekor ayam ataupun uang koin yang diberikan ke warga usai menggelar tradisi Nyadran," jelasnya.

Untuk itu tak heran bila ada sebagian warga yang membagikan ayam dan uang koin selepas Nyadran. Tradisi ini kemudian ditutup dengan acara menabur bunga tujuh rupa dan makan bersama di areal tempat pemakaman umum.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com