Satwa Liar di Sekitar Tambang Emas Banyuwangi Tetap Terjaga

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 31 Agu 2018 17:07 WIB
Petugas memasang camera trap untuk memantau satwa liar/Foto: Istimewa
Banyuwangi - Pegunungan Tumpangpitu, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, tidak hanya menyimpan kandungan mineral tambang yang besar dalam perut bumi. Di atasnya juga hidup sejumlah flora dan fauna yang menarik untuk diamati. Meski begitu, jenis satwa liar yang hidup di pegunungan wilayah Kecamatan Pesanggaran itu habitatnya masih terjaga walaupun berdampingan dengan lokasi pertambangan.

Hal ini diketahui dari hasil pemantauan yang berlangsung pada 24 - 28 Agustus 2018 oleh Tim Environmental PT Bumi Suksesindo (BSI), operator tambang emas di Selatan Kota Banyuwangi ini.

Pemantauan yang dilakukan bagian dari monitoring lingkungan sesuai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perusahaan. Dalam kegiatan ini, tim secara langsung memasuki area hutan yang ada di Tumpang Pitu. Saat pengamatan berlangsung, hewan yang ditemui di dalam hutan difoto dan didata.

"Metode yang digunakan dalam kegiatan pemantauan meliputi point count, transek, perangkap hidup, menggunakan jala kabut, camera trap, pencetakan jejak dan fauna maping," ungkap Manajer Lingkungan PT BSI, Ismed Siregar, kepada detikcom, Jumat (31/8/2018).

Kegiatan ini adalah kerja rutin tiap tiga bulanan. Pemantauan satwa selama empat hari ini melibatkan tim dari Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) wilayah III Jember dan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I).

Tercatat ada 90 jenis burung, 28 jenis mamalia, 24 jenis reptil dan tujuh jenis amfibi yang teridentifikasi menghuni Gunung Tumpang Pitu. Jumlah itu tercatat dari hasil pengamatan tahun 2012 hingga 2018. Fauna seperti rusa, babi hutan, elang, lutung, monyet dan kukang jawa terdapat di pegunungan yang dekat dengan Pantai Pulau Merah, salah satu destinasi wisata unggulan di Banyuwangi selatan itu.

Waktu pemantauan berlangsung pada waktu pagi, sore dan malam di enam titik berbeda. "Keenam titik pemantauan mewakili tiga kriteria hutan yaitu hutan dataran rendah (hutan tanaman), zona peralihan antara hutan tanaman dengan hutan rimba campuran serta di
hutan rimba campuran," imbuhnya.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) KSDA wilayah III Jember, Bagus Suseno mengatakan semua satwa di lokasi pertambangan tidak terganggu dengan adanya aktivitas penambangan yang dilakukan PT BSI. Beberapa jenis hewan seperti lutung dan monyet juga berkeliaran di dekat lokasi artinya hewan tersebut sudah dapat menyesuaikan diri dengan habitatnya yang kini menjadi lokasi pertambangan. Di dalam hutan juga ditemukan bekas kubangan lumpur yang menjadi habitat babi hutan.

"Hewan tersebut sudah menyesuaikan diri dengan habitatnya. Kami menilai aktivitas pertambangan tidak mengusik habitat hewan tersebut. Kami juga menemukan jenis elang yang masih terbang bebas di atas area pertambangan," cetusnya.

Sementara itu, Superintendent Departemen Environmental, Iwa Mulyawan mengaku pengamatan satwa menjadi langkah bijak yang dilakukan oleh divisi lingkungan. "PT BSI menjaga seluruh ekosistem yang ada di sekitar area tambang baik di darat maupun perairan.

Semua pengamatan dilakukan setiap hari untuk mengetahui jumlah satwa yang ada di hutan area pertambangan," pungkasnya. (bdh/bdh)