DetikNews
Kamis 30 Agustus 2018, 14:08 WIB

Pembayaran Bulog Terlambat, Petani Setop Tanam Tebu

Enggran Eko Budianto - detikNews
Pembayaran Bulog Terlambat, Petani Setop Tanam Tebu Tumpukan gula di gudang Bulog Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Pembelian gula petani tebu oleh Perum Bulog pada tahap 1 dan 2, masih diwarnai keterlambatan pembayaran. Akibatnya, para petani memilih setop menanam tebu.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PTPN X Mubin mengatakan, rencana penjualan gula ke Bulog pada tahap 2 mencapai 34.415,809 ton dengan harga Rp 9.700/Kg. Produk gula tersebut dari 9 PG yang ada di wilayah kerja PTPN X.

Meliputi PG Kremboong 1.711,665 ton, PG Gempolkrep 7.470,1 ton, PG Djombang Baru 2.377,682 ton, PG Tjoekir 2.656,3 ton, PG Lestari 3.861,127 ton, PG Meritjan 1.880,816 ton, PG Pesantren Baru 4.446,532 ton, PG Ngadiredjo 7.524,252 ton, PG Modjopanggoong 2.487,335 ton.

"Administrasi penjualan yang belum selesai sampai hari ini meliputi PG Kremboong, Lestari, Pesantren Baru, Ngadirejo, Modjopanggoong dan Meritjan," kata Mubin kepada detikcom, Kamis (30/8/2018).


Namun, persoalan keterlambatan pembayaran masih mewarnai pembelian gula petani pada tahap 1 (25 Juli-21 Agustus 2018). Seperti yang dikeluhkan Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Harum Jaya wilayah kerja PG Djombang Baru Mahmud Naf'an. Padahal pembayaran di 8 PG lain untuk tahap 1 sudah tuntas.

"Gula petani di PG Djombabg Baru yang dijual ke Bulog di tahap 1 1.562 ton atau senilai Rp 15 miliar. Belum ada pembayaran sampai hari ini," ungkapnya.

Naf'an mengaku sudah mengajukan administrasi penjualan sejak program pembelian perdana oleh Bulog terhadap gula petani digulirkan 25 Juli 2018. Persyaratan tersebut baru dinyatakan lengkap oleh Bulog sekitar 3 pekan yang lalu.

"Ada kendala persyaratan tambahan, termasuk sertifikat SNI. Selain itu penjualan ke Bulog juga dibatasi maksimal setiap tahap 2.300 ton gula," ujarnya.


Akibat terlambatnya pembayaran, lanjut Naf'an, para petani tebu harus menanggung membengkaknya bunga pinjaman di bank. Pasalnya, bunga pinjaman petani terus bertambah seiring mundurnya pembayaran angsuran di bank.

Luasan lahan petani di wilayah kerja PG Djombang Baru mencapai 1.850 hektare di wilayah Jombang serta 1.500 hektare di wilayah Bojonegoro dan Lamongan.

"Selain itu petani banyak yang berhenti tanam karena tak mampu membayar ongkos tebang dan angkut. Ongkos tebang dan angkut Rp 14-16 ribu/kwintal. Otomatis tahun depan produksi molor. Juga banyak petani yang beralih menanam komoditas lain," terangnya.

Pembayaran gula petani tahap 2 juga mengalami keterlambatan. Seperti yang dikatakan Ketua APTRI Tandur Laras Makmur Andi Mulyo yang bernaung di pabrik gula (PG) Tjoekir, Jombang.


Menurut dia, pembayaran gula petani terganjal di Bulog pusat. Pasalnya, administrasi penjualan telah lengkap sejak 22 Agustus 2018.

"Sampai hari ini belum ada pembayaran. Bulog Mojokerto (Bulog Sub Divre Surabaya Selatan) mengatakan tak pegang kendali terhadap kebijakan pembayaran. Mereka hanya menunggu pencairan dari pusat," jelasnya.

Akibat molornya pembayaran oleh Bulog, tambah Andi, petani tebu kesulitan membayar ongkos tebang, angkut dan biaya tanam. "Sangat besar dampaknya terhadap psikologis petani. Kami tak ada semangat untuk menanam tebu," tegasnya.

Kepala Bulog Sub Divre Surabaya Selatan Slamet Kurniawan mengklaim sudah membayar gula petani PG Djombang Baru pada pembelian tahap 1. "Kalau untuk PG Tjoekir dan Gempolkrep tahap 2 masih dalam proses," tandasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed