DetikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 09:24 WIB

Begini Suasana Salat Id Jemaah MTA di Pacitan

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Begini Suasana Salat Id Jemaah MTA di Pacitan Jemaah Majelis Tafsir Alquran salat Idul Adha pagi ini/Foto: Purwo S
Pacitan - Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) perwakilan Pacitan melakukan salat Idul Adha, Selasa (21/8/2018) pagi. Salat Id digelar di halaman majelis, Jalan Gatot Subroto, Gang IX, Baleharjo.

Meski sempat diwarnai gerimis tipis, pelaksanaan Salat Id berlangsung lancar. Salat diikuti sekitar 1.500 jemaah. Mereka berasal dari 11 kecamatan. Adapun 1 kecamatan seperti Donorojo melaksanakan Salat Id secara mandiri. Jemaah MTA di wilayah barat Pacitan tersebut diperkirakan mencapai 500 orang.

Ketua Perwakilan MTA Pacitan, Imam Syafii saat menjadi khatib mengajak jemaah meneladani ajaran Nabi Ibrahim AS. Ibadah kurban, lanjut dia, mengajarkan manusia untuk rela berbagi dengan sesama.

"Sekarang saatnya kita merenung dan bertanya pada diri masing-masing, sudah sampai mana kita sesuatu yang terbaik demi kepentingan umat dan bangsa kita," kata Syafi'i di depan jemaah.

Memang, lanjut tokoh yang kerap mengisi ceramah tersebut, pengorbanan tak selaku identik dengan jiwa. Pengorbanan dapat pula berwujud harta, tenaga, pikiran maupun waktu.


Memberikan hal terbaik dalam hidup memang sulit. Itu pula alasan pentingnya membiasakan diri menyumbangkan harta berupa hewan kurban yang sempurna fisiknya.

"Tanpa pembiasaan diri seperti itu, rasa enggan memberi dan menyumbang akan tetap bersemayam dalam diri kita," tandasnya seraya menjelaskan jika ibadah kurban mengajarkan umat Islam memperkuat solidaritas.

Usai Salat Id kegiatan dilanjutkan penyembelihan hewan kurban di halaman samping timur majelis. Hingga pukul 08.00 WIB, panitia menerima kurban sebanyak 25 ekor sapi dan 55 ekor kambing. Penyembelihan akan dilakukan 2 gelombang.

Penyembelihan gelombang pertama berupa 10 ekor lembu dan 10 ekor kambing akan dilakukan usai Salat Id. Sedangkan sisanya disembelih hari berikutnya. Untuk pemerataan, distribusi daging langsung diarahkan ke pelosok pedesaan.

"Masalahnya kalau di kota ini sudah penuh dengan daging. Setiap pintu pasti kemasukan daging. Dari musala-musala terdekat itu saja sudah turah (berlebih)," pungkas Syafi'i berbincang dengan detikcom.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed