DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 14:52 WIB

Cerita Kakek yang Mengaku Supriyadi Pimpin PETA Lawan Jepang

Yakub Mulyono - detikNews
Cerita Kakek yang Mengaku Supriyadi Pimpin PETA Lawan Jepang Waris Yono yang mengaku sebagai Supriyadi (Foto: Yakub Mulyono)
Jember - Seorang kakek warga Dusun Gondosari, Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Jember, mengaku sebagai sosok pemimpin PETA Blitar, Supriyadi. Pria yang di tempat tinggalnya dikenal sebagai Suyono alias Waris Yono ini, menceritakan bagaimana perjuangannya saat melawan Jepang di Blitar.

"Awalnya kami senang Belanda akhirnya pergi dan digantikan Jepang. Apalagi kami dilatih ilmu beladiri dan kemiliteran oleh tentara Jepang," kata Waris Yono mengawali ceritanya, Kamis (16/8/2018).

Namun lama kelamaan Jepang mulai bertindak sewenang-wenang. Terutama terhadap rakyat.

"Saya masih ingat saat diminta Jepang menarik upeti ke petani. Jepang minta upeti 90 persen hasil panen. Jadi petaninya hanya dapat bagian 10 persen," kenang "Supriyadi".

Bagi petani yang menolak upeti, maka sumurnya akan diberi cairan, yang menyebabkan penyakit gata-gatal. "Saya sendiri waktu itu sudah ngetes cairannya, ternyata cairan itu ada bakterinya yang menyebabkan gatal-gatal di kulit," kenang kakek yang mengaku sudah berusia 118 tahun ini.


Tak terima rakyat diperlakukan sewenang-wenang, dia bersama rekan-rekan sesama anggota PETA berniat melakukan pemberontakan. Mereka pun melakukan rapat untuk mematangkan rencana.

"Pertemuannya di daerah Kiprah, Karang Lo, Sanen Wetan, Blitar," katanya.

Setelah rencana matang, dia kemudian menemui gurunya Mbah Kasan Bendo. Sang guru saat itu meminta agar pemberontakan ditunda.

"Tapi saya bilang kalau menunggu lama, nanti Jepang malah semakin gemuk. Akhirnya saya nekat. Kemudian saya dikasih senjata sebuah pisau panjang mirip pedang," cerita kakek ini.

Saat memimpin pemberontakan, dia mengaku tertembak bagian paha kanan. Dari situlah sebagian orang ada yang mengira Supriyadi tewas.

"Padahal saya masih berhasil lolos dan melarikan diri ke gunung Gedang, kecamatan Gandusari. Sebelah Gunung Kelud. Di sana saya menemui guru saya juga, Aryo Gentelo," kenangnya.

Di sana dia diobati hingga sembuh. Selain itu, dia juga belajar berbagai ilmu. "Selama tiga bulan di sana. Penyembuhan sekaligus belajar ilmu," kata "Supriyadi".

Terpisah dari pasukan selama tiga bulan, membuat pemberontakan gagal. "Itu yang membuat gagal, karena saya tertembak dan tiga bulan melakukan penyembuhan," ungkapnya.

Setelah itu, "Supriyadi" memutuskan untuk mengembara berpindah-pindah tempat dengan berganti-ganti nama. Hal itu dilakukan untuk menghindari kejaran pasukan Jepang.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed