DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 11:18 WIB

Manfaatkan Larva, Begini Cara Surabaya Kurangi Sampah

Zaenal Effendi - detikNews
Manfaatkan Larva, Begini Cara Surabaya Kurangi Sampah Foto: Zaenal Effendi
Surabaya - Pemkot Surabaya menggunakan teknologi khusus untuk mengolah sampah di lingkungannya, yaitu teknologi larva. Dengan teknologi ini diharapkan jumlah sampah di Surabaya juga berkurang.

Penggunaan teknologi larva untuk mengurangi sampah merupakan pilot project dari Kementerian PUPR dengan Pemerintah Swiss yang telah dimulai sejak bulan Oktober 2017 silam.

"Awalnya kami diberi bibit 40 ribu larva yang kami kembangkan sampai saat ini," kata Koordinator Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan Dwija Warsito kepada detikcom di lokasi, Kamis (16/8/2018).

Dwi menjelaskan, larva-larva itu diberi makan dari sampah rumah tangga berupa makanan sisa.

"Larva kita tempatkan dalam satu wadah berisi 10 ribu (larva, red) kemudian kita beri makanan bekas yang sudah kita pilah sebanyak 12 kg yang akan habis selama 12 hari," paparnya.


Hasilnya, larva akan mengeluarkan kotoran yang bisa digunakan sebagai pupuk kompos.

"Larva kami ternak menjadi lalat yang dikawinkan. Lalat jantan setelah kawin akan mati, kemudian betina bertelur. Jadi perkembangbiakan mereka berputar seperti kupu-kupu. Awalnya susah karena harus berhati-hati jangan sampai lalat liar masuk," ungkap Dwija.

Manfaatkan Larva, Begini Cara Surabaya Kurangi SampahFoto: Zaenal Effendi

Namun untuk saat ini, teknologi larva baru diujicobakan di dua RT yang ada di Kecamatan Jambangan. Kedua RT tersebut menghasilkan 2,5 ton sampah sisa makanan perbulan.

Dari hasil ujicoba di dua RT dan di Pusat Daur Ulang, residu atau kotoran larva yang dihasilkan menjadi kompos sebanyak 200 kg. Selain untuk kompos, residu ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan.

"Tidak hanya untuk kompos, beberapa kilo juga digunakan untuk pakan ternak ikan lele yang juga kita budidaya disini," ujar Dwi.


Kasi Pemanfaatan Sampah DKRTH Surabaya Choirunnisa menyampaikan, teknologi ini terbukti mampu mengurai limbah rumah tangga lebih cepat.

"Dari segi larvanya sendiri memiliki nilai ekonomis tinggi," imbuhnya.

Choirunnisa menambahkan teknologi ini telah disosialisasikan ke seluruh faskel (fasilitator kelurahan) se-Surabaya sebab target ke depan metode ini akan diterapkan di seluruh PDU yang ada di Kota Surabaya.

"Kami berharap masyarakat juga ikut mandiri mengelola sampah mereka sendiri dengan menggunakan teknologi larva. Otomatis sampah yang kita kelola bisa berkurang," pungkasnya.

Dari data yang dihimpun detikcom, jumlah sampah di Kota Surabaya tiap hari mencapai 1.500 ton. Dari jumlah itu, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Benowo sekitar sekitar 300 - 600 ton.
(ze/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed