Ini Solusi Agar Limbah Tekstil Berbahaya Aman Saat Dibuang

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Kamis, 09 Agu 2018 07:59 WIB
Foto: Humas ITS
Surabaya - Limbah industri tekstil yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk berinovasi. Mereka menemukan solusi dengan menggunakan Zeolitic Imidazolate Frameworks-8 (ZIF-8) sebagai penyerap limbah.

Tim yang terdiri atas tiga mahasiswi Departemen Kimia ITS ini melakukan penelitian terhadap limbah metilen biru agar aman saat dibuang bebas ke perairan. Metilen biru merupakan jenis zat pewarna yang banyak digunakan di dalam industri tekstil. Dalam pewarnaan, hanya lima persen saja zat warna tersebut yang dapat terikat, sehingga 95 persen sisanya terbuang sebagai limbah.

Berkaca dari itu, Hannis Nur Rohma, Risma Cindy Avista, dan Dewi Kurnia tergerak untuk mengolah limbah metilen biru yang marak digunakan ini. Ketua tim yang akrab disapa Hannis mengatakan, limbah zat warna biru yang dibuang bebas di
perairan memiliki sifat nonbiodegradable, yaitu tidak dapat diuraikan secara alami. Selain itu, limbah tersebut juga dapat menyebabkan gangguan ekosistem apabila dibuang secara langsung.


"Limbah ini bersifat karsinogenik sehingga dapat memicu penyakit seperti kanker," jelas Hannis dalam siaran pers yang diterima detikcom melalui Humas ITS Surabaya, Kamis (9/8/2018).

Agar dapat mengurangi dampak berbahaya dari limbah tersebut, ia dan kedua temannya menggunakan absorben ZIF-8 dengan metode absorpsi (sebuah proses penyerapan zat). "ZIF-8 merupakan material kristalin yang terbentuk dari ion logam tetrahedral seperti Seng (Zn) yang dijembatani oleh ligan imidazolat ((semacam bubuk kimia)," paparnya.

Ia menjelaskan, ZIF-8 banyak digunakan sebagai absorben karena memiliki persen efisiensi yang cukup tinggi untuk menyerap senyawa organik berbahaya seperti zat warna. Hannis menuturkan, dalam penelitiannya kali ini, ia menambahkan logam Kobalt (Co) dalam material ZIF-8 miliknya.


"Kobalt ini menggantikan logam Seng dalam material ZIF-8 karena kobalt dan seng berasal dari periode (dalam tabel periodik kimia, red) yang sama, namun memiliki jari-jari yang lebih besar," urai Hannis lagi.

Berdasar teori tersebut, ia mengungkapkan bahwa kobalt ini akan lebih reaktif dibandingkan seng karena ikatannya mudah putus. Dengan demikian, ia menilai, efisiensi ZIF-8 dengan penambahan kobalt akan jauh lebih tinggi, jika dibandingkan dengan ZIF-8 pada umumnya. Mahasiswi tingkat akhir ini berharap, penelitian yang merupakan hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) ini dapat menjadi referensi untuk mengatasi permasalahan limbah cair di industri.

"Saya harap penelitian ini bermanfaat bagi kehidupan manusia, sekaligus dapat menjaga keasrian lingkungan sekitar dari banyaknya limbah yang ada," pungkas mahasiswi murah senyum ini. (iwd/fat)