detikNews
Selasa 07 Agustus 2018, 09:52 WIB

Enam Bulan, 16 Anak di Blitar Ditemukan Suspect Difteri

Erliana Riady - detikNews
Enam Bulan, 16 Anak di Blitar Ditemukan Suspect Difteri Foto: Erliana Riady/File
Blitar - 16 Anak ditemukan suspect difteri. Jumlah itu terdeteksi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar selama 6 bulan di tahun 2018, yakni sejak Januari hingga akhir Juli.

Mereka yang mengalami suspect disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae, usia 5-15 tahun. Gejala paling khas bila terdeteksi suspect difteri, adalah munculnya selaput berwarna putih abu-abu pada tenggorokan yang dinamakan dengan selaput pseudomembran.

Kepala Bidang Pencegahan Pemberatasan Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, Krisna Yekti menyatakan, dari 22 kecamatan di Kabupaten Blitar, sebanyak 10 kecamatan wilayah endemiknya.

Yakni Kecamatan Garum, Selorejo, Talun, Ponggok, Srengat dan Bakung. Selain itu penderita suspect difteri juga terpantau berada di Kecamatan Sanankulon, Wonotirto dan Nglegok.


"Kecamatan Wlingi, Sutojayan, Kademangan itu sejak tahun kemarin bebas difteri," jelasnya saat ditemui di kantornya, Selasa (7/8/2018).

Sementara Kemenkes RI telah melaksanakan outbreak response immunization (ORI) gelombang kedua pada Januari 2018. ORI ini merupakan imunisasi terhadap wabah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri ada Januari 2018. Sebelumnya, Kemenkes sudah melakukan ORI di bulan Desember 2017. Dan di Kabupaten Blitar pelaksanaan ORI gelombang dua dilakukan dalam tiga tahapan.

"Tahap pertama sudah kami laksanakan pada bulan Februari, tahap kedua Juli dan tahap ketiga Novpember mendatang," beber Krisna.

Berdasarkan data sensus penduduk, sebanyak 301.583 sasaran ORI tersebar di Kabupaten Blitar. Namun realisasinya hanya sebanyak 293.017 warga.


"Sampai tahapan kedua Juli lalu, tingkat capaian ORI sudah 32,5 persen," tandasnya.

Jika dibandingkan tahun 2017 lalu, ada 13 penderita dalam satu tahun. Jumlah ini meningkat selama tahun 2018. Karena selama 6 bulan, sudah ada 16 penderita suspect difteri yang dilaporkan.

Menurut Krisna, penyakit ini muncul pada bulan-bulan temperatur lebih dingin. Utamanya, menyerang anak-anak berumur di bawah 15 tahun yang tidak mendapat imunisasi difteri.

"Saat ini dinginnya lebih ekstrim dibanding tahun lalu ya. Kemungkinan faktor cuaca menjadi satu di antara pemicu kenaikan jumlah penderita difteri di sini," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com