"Selain meningkatkan kerukunan dan rasa nasionalisme warga, perayaan Agustusan ini juga untuk mendukung program pemerintah agar warga selalu menjaga kebersihan aliran sungai. Makanya, lokasinya kita pilih di tepian dan aliran sungai," kata Yossi, Ketua Panitia Lomba Agustusan setempat, Senin (6/8/2018).
Kampanye yang dilakukan tak hanya berupa tulisan tetapi juga mendorong warga untuk lebih peduli terhadap sungai di sekitarnya, seperti anjuran untuk tidak membuang sampah ke sungai.
Aneka jenis lomba yang digelar pun terbilang unik. Untuk warga dewasa, ada lomba dayung dengan ban bekas, lomba merias istri dengan mata tertutup dan lomba memasak. Sedangkan untuk anak-anak, panitia menggelar lomba membaca teks pancasila, lomba menjepit balon sambil berjalan, dan lomba makan kerupuk.
Semuanya digelar di tepian dan aliran sungai RT 01 RW 03 Lingkungan Parse Kelurahan Dawuhan Kecamatan Situbondo. Warga pun antusias mengikuti perlombaan ataupun menonton.
Foto: Ghazali Dasuqi |
Namun yang paling unik dari pengamatan detikcom adalah lomba merias istri dengan mata tertutup. Namanya saja dengan tanpa melihat, tentu saja hasil riasan suami pun jadi berantakan di wajah sang istri. Bahkan ada suami yang salah memoleskan lipstik ke hidung istri atau menggambar alis secara acak-acakan.
Tak heran, banyak penonton pun terpingkal-pingkal selama lomba ini berlangsung. Bahkan, para istri yang dirias tak bisa menyembunyikan gelak tawanya.
"Ambhu Mas, jhek lipenne beih. Duh, teppak ka elong lah ya. (Sudah mas, jangan dikasih lipstik terus. Duh, ini sampai kena ke hidung, red)," tandas seorang peserta bernama Via kepada suaminya, lalu tertawa.
Menariknya lagi, hasil riasan suami ini tidak boleh dihapus hingga mereka selesai mengikuti lomba memasak sambil bergoyang. Acara perayaan Agustusan ini ditutup dengan acara tasyakuran warga atas kemerdekaan RI, yang digelar hingga Minggu (5/8) tadi malam. (lll/lll)












































Foto: Ghazali Dasuqi