DetikNews
Senin 23 Juli 2018, 11:12 WIB

Berawal Iseng, Arik Raup Untung dari Helm Jadul

Erliana Riady - detikNews
Berawal Iseng, Arik Raup Untung dari Helm Jadul Foto: Erliana Riady
Blitar - Barang-barang vintage atau retro belakangan menjadi primadona lagi karena dianggap unik. Begitu juga dengan helm retro atau jadul yang memberikan peluang baru bagi Arik Agung Prasetya Budi untuk berwirausaha.

Berawal dari keisengan mengunggah koleksi helm retronya di medsos, ternyata ada yang berminat membelinya. Bahkan hal ini tidak terjadi satu-dua kali saja. Akhirnya peluang ini pun digarap serius oleh bapak dua anak asal Kota Blitar ini.

Saat disambangi detikcom di workshop-nya yang sederhana, pria berusia 26 tahun ini masih sibuk memasang foam pada sebuah helm full face atau cakil, pesanan pelanggannya.

"Saya biasanya dapat bahan helm jadul ini hanya cangkangnya saja. Dalemannya sudah rusak. Untuk menggantinya, saya bisa kanibal dari spon helm jadul lain. Ukuran tinggal menyesuikan," kisah Arik memulai perbincangan, Senin (23/7/2018).


Bisnis Helm Retro, Keisengan yang Mendatangkan Peluang, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]



Tak hanya mengganti foam, Arik kadang harus membersihkan kembali cat helm yang kotor. Namun tidak mengganti warnanya.

"Pembeli saya malah suka yang catnya orisinil bawaan helmnya. Yang motifnya original semakin mahal harganya. Semakin asli tanpa modifikasi, malah itu yang banyak dicari," ulas lulusan SMKN 1 Blitar ini.

Dari Iseng, Arik Raup Untung dari Helm JadulFoto: Erliana Riady

Menurut Arik, bisnis barang retro sama dengan bisnis dengan hati karena tergantung taste atau ketertarikan seseorang pada suatu barang, bukan melulu pada manfaat atau trennya. Hanya saja, diakui Arik, helm lama memang rata-rata memiliki kualitas bahan yang lebih kuat dan tahan banting.

"Sama seperti orang nawarin lukisan. Kalau saya suka modelnya, barangnya langka ya saya tawarin harga tinggi. Alhamdulillah ada saja yang beli," ucapnya dengan tersenyum.

Untuk mendapatkan helm jadul ini, warga Jalan Musi gang 1 nomor 8 Dawuhan, Kauman Kecamatan Kepanjenkidul ini rajin menyambangi pasar loak, tukang loak dan penjual barang bekas online. Sebab saat ini, helm produksi 90-an makin jarang ditemui di Blitar.

"Sekarang saya banyak dapat bahan justru dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jombang dan Mojokerto. Kalau dari tukang loak saya dapat Rp 10 ribu per buah. Kalau dapat bahan kiloan saya beli Rp 6 ribu per kg," tuturnya.


Arik juga merinci helm model half face dibeli dengan harga Rp 10-30 ribu, kemudian oleh Arik dijual kembali seharga Rp 60-100 ribu. Namun untuk model full face atau terkenal dengan istilah helm cakil, Arik harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja bahan.

"Sudah langka. Harganya bahannya bisa sampai Rp 150 ribu. Dari bahan, biasanya saya hanya modifikasi bagian corong ventilasi pernafasan. Ditambahi dengan kawat rajut size paling kecil biar seperti aslinya. Kalau yang model ini paling mahal. Saya bisa jual antara Rp 350 sampai 600 ribu," paparnya.

Tentang peminatnya, Arik mengungkapkan biasanya tak jauh-jauh dari komunitas pecinta helm NOS (new all stok) atau helm stok lama kondisi baru maupun komunitas motor dan para pemilik kafe.

"Iya, selain dipakai biar mbois (keren, red), banyak yang di-display untuk pajangan di kafe. Makanya pembeli helm retro ini kebanyakan dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Denpasar sampai Kalimantan," tuturnya.

Arik mengaku baru satu tahun menjalani bisnis baru ini, penghasilannya bisa bertambah hingga Rp 1 juta per bulan. Bagi Arik yang pekerjaan utamanya sebagai instalator listrik ini, berjualan helm jadul menjadi keisengan yang berbuah manis.


(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed