DetikNews
Rabu 18 Juli 2018, 21:17 WIB

Wah, Ada 'Nasi Goreng' dari Pisang di Lomba ala PKK Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Wah, Ada Nasi Goreng dari Pisang di Lomba ala PKK Banyuwangi Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Makanan yang mengandung karbohidrat merupakan bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Namun ada kalanya perlu dikreasikan seperti halnya yang dilakukan PKK Banyuwangi.

Dalam lomba kreasi menu non-beras dan non-terigu tersebut, para ibu berlomba mengolah berbagai bahan menjadi berbagai masakan unik. Ada yang mengolah pisang jadi 'nasi goreng', talas menjadi salad, jantung pisang menjadi perkedel, dan ubi ungu menjadi puding.

Ketua Penggerak PKK Kabupaten Banyuwangi Ny. Ipuk Fiestiandhani Azwar Anas mengungkapkan, selama ini masyarakat hanya mengenal karbohidrat berupa beras dan tepung, padahal tidak demikian.

"Kita harus mulai mengenal dan mengolah karbohidrat dari bahan lain selain nasi dan tepung. Karena jumlah lahan pertanian kita semakin berkurang sementara jumlah penduduk terus bertambah, jadi kita harus kreatif mencari alternatif karbohidrat, misalnya dari umbi-umbian," jelas Dani, panggilan akrabnya, saat membuka lomba tersebut di Pantai Grand Watudodol, Rabu (18/7/2018).


Salah satu kreasi yang menarik perhatian ditunjukkan oleh ibu-ibu PKK dari Kecamatan Kalibaru yang menciptakan menu 'nasi goreng' dari pisang.

"Ini dari pisang agung yang dikukus, lalu diparut kasar. Baru kemudian diolah seperti nasi goreng. Sengaja kita menggunakan pisang agung karena kita ingin memanfaatkan potensi lokal. Di wilayah Kalibaru, pisang jenis ini sangat banyak dan harganya terjangkau, sehingga ekonomis," jelas Endang, salah satu anggota PKK Kecamatan Kalibaru.

Ada pula menu Tiwul Bakar yang disajikan oleh kelompok PKK Kecamatan Muncar. Tiwul adalah olahan dari singkong yang dikeringkan (gaplek), kemudian ditumbuk menjadi tepung. Tiwul bakar ini disajikan bersama lauk pauk yang menggoda seperti cumi isi sayur bumbu rujak, kepiting isi daging ikan patin, dan schotel tempe yang nikmat.

"Kelihatannya ini menu mahal. Padahal biayanya murah lho karena di Muncar harga ikan juga terjangkau. Jadi tiwul ini tidak mengurangi kebutuhan konsumsi karbohidrat kita. Apalagi dipadukan dengan lauk pauk dengan gizi seimbang," terang Indra Subariyono dari PKK Kecamatan Muncar.

Lomba tersebut juga menarik perhatian delegasi dari 24 negara peserta pelatihan internasional yang kebetulan sedang digelar di Banyuwangi. Mereka memuji kreativitas dan kelezatan makanan hasil kreasi para peserta lomba.


Seperti yang dilontarkan Sanet Petschel asal Afrika Selatan yang sempat mencicipi kebab sidat (oling). "Ini lezat sekali, saya suka banget," pujinya.

Selain kebab sidat, Sanet juga sempat mencoba menu kepiting hasil kreasi ibu-ibu PKK Kecamatan Muncar. Sanet rupanya juga menyukai olahan kepiting yang dipadu dengan daging ikan patin. "Ini juga enak namun agak pedas. Kayaknya yang ada di sini enak semua," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Harry Cahyo Poernomo menjelaskan lomba ini bertujuan mendorong kreativitas masyarakat mengembangkan dan menciptakan menu berbasis sumber daya lokal.

"Peserta sengaja diimbau untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya sehingga lebih ekonomis. Seperti Kecamatan Glagah yang punya sidat, mereka olah sidatnya," ujar Harry.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed