DetikNews
Jumat 13 Juli 2018, 12:33 WIB

Sempat Tersebar Fotonya, Begini Kondisi Anak Pemilik Bom Pasuruan

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Sempat Tersebar Fotonya, Begini Kondisi Anak Pemilik Bom Pasuruan Foto: Hilda Meilisa Rinanda/File
Surabaya - Belakangan beredar foto suster yang sedang memeluk seorang anak diduga pemilik bom Pasuruan. Namun bagaimana sebenarnya kondisi si anak saat ini?

Pantauan terakhir menyebutkan anak itu memang sedang menjalani perawatan di RS Bhayangkara Surabaya pasca menjadi korban dari bom rakitan ayahnya sendiri.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera pun mengatakan kondisi balita tersebut sudah membaik.

"Kita lihat bahwa kondisi terakhir dari pada anak itu dalam keadaan membaik. Dalam artian signifikan," ujar Barung saat ditemui di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat (13/7/2018).


Ditambahkan Barung, saat ini kondisi bocah yang belum genap berusia 3 tahun tersebut sudah mulai tenang dan tidak selalu menangis seperti saat pertama masuk rumah sakit. Luka bakar pada wajah hingga luka di tangan dan kakinya juga diketahui telah mengering.

"Perlahan-lahan kondisi anak itu sudah mulai stabil dan luka-lukanya juga sudah mulai mengering," ujar Barung.


Barung menambahkan, Polda Jatim dan RS Bhayangkara selama ini telah memiliki pengalaman dalam merawat anak-anak dari teroris atau terduga teroris. Untuk itu, dalam merawat anak Abdullah atau Anwardi yang saat ini masih menjadi buron, pihaknya juga berfokus pada penyembuhan fisik dan psikisnya saja.

"Polda Jawa Timur dan Rumah Sakit Bhayangkara sudah melakukan berbagai pengalaman terhadap ini semua. Dan sudah kita lakukan healing dengan dibantu berbagai pihak," lanjut Barung.

Terkait foto diduga anak pelaku bom Pasuruan, Barung mengaku pihaknya akan mengusut tuntas siapa yang mengunggah foto tersebut. Utamanya karena hal ini tentu melanggar UU ITE, kode etik penyiaran hingga UU anak.

"Yang disayangkan memang ada pihak tertentu yang memanfaatkan ini untuk kepentingan tertentu, dengan melakukan upload di media sosial. Sehingga memang harus kita usut siapa yang melakukan upload dan siapa yang pertama kali melakukannya (menyebarkan) di media-media. Ini pertama kali di media sosial dan kemudian menyebar," pungkasnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed