DetikNews
Rabu 11 Juli 2018, 17:19 WIB

Ini Alasan Unair Kembangkan Sel Punca untuk Antiaging

Zaenal Effendi - detikNews
Ini Alasan Unair Kembangkan Sel Punca untuk Antiaging Foto: Zaenal Effendi/File
Surabaya - Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell (P3SC) Universitas Airlangga Surabaya mengaku sengaja memilih mengembangkan stem cell atau sel punca antiaging (antipenuaan) untuk diproduksi secara massal.

Purwati menjelaskan jenis sel punca ini dipilih karena memiliki pasar komersil yang luas dan banyak dibutuhkan.

"Kenapa antiaging, kalau riset disini kan yang ini (sel punca antiaging) komersialisasi dan hilirisasi produk untuk teaching industry dari BUMN Phapros," kata Purwati yang menjabat sebagai Kepala P3SC Unair, usai peresmian Teaching Industry Stem Cell di Gedung Lembaga Penyakit Tropis kampus C Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu (11/7/2018).

Purwati menambahkan, produksi sel punca dilakukan dengan mengambil sel dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai.

"Jadi ini metabolit, bahan-bahan yang mengandung grow factor disekresi stem cell-nya kemudian ditambahkan formula lagi khusus sehingga menjadi antipenuaan," terangnya.


Bahan sel punca yang sudah tidak terpakai menurut Purwati di antaranya plasenta dari ibu yang baru saja melahirkan.

"Kita screening dulu dari penyakit segala macam baru kita jadikan bahan. Bisa juga plasenta dari ibu yang menjalani operasi sectio (operasi caesar, red), kita screening dulu agar disitu tidak terkontaminasi bakteri dan virus," ungkapnya.

Untuk saat ini, lanjut Purwati, pihaknya sudah memasuki tahapan registrasi ke BPOM agar sel punca yang dihasilkan dapat dipasarkan secara luas.

Harapannya, di akhir tahun 2018 atau awal 2019, izin edar untuk sel punca produksi P3SC Unair ini bisa dipasarkan.


Untuk harganya sendiri, Purwati mengaku sel punca bikinan lokal bakal jauh lebih murah dibandingkan produk dari luar negeri atau yang sudah ada di pasaran.

"Kalau dibanding asing, kita untuk stem cell produknya bisa hemat 1/5 atau 1/6 dari harga stem cell (dari luar negeri, red)," lanjutnya.

Staf pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Fakultas Kedokteran Unair itu pun memastikan sel punca yang dihasilkan lembaganya telah melalui proses riset selama 6 tahun.

Namun untuk pemasaran atau distribusi sel puncanya sendiri, Purwati mengaku harus menggandeng pihak ketiga, yaitu PT Phapros TBK, sebab akademisi terbentur oleh peraturan.

"Kita dari universitas kan tidak bisa memasarkan. Kalau yang punya pasar luas perusahan BUMN makanya kami kerjasama. Kita produksi, yang jual Phapros dan setelah mendapat registrasi BPOM bisa didistribusikan secara nasional tapi nanti di klinik kencantikan yang ada dokternya, jadi tidak harus disini," pungkas Purwati.
(ze/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed