DetikNews
Selasa 10 Juli 2018, 19:25 WIB

Sebelum Lapor, Korban Investasi Bodong Tempuh Cara Kekeluargaan

Deni Prastyo Utomo - detikNews
Sebelum Lapor, Korban Investasi Bodong Tempuh Cara Kekeluargaan Foto: Deni Prastyo Utomo
Surabaya - Meski sudah tertipu hingga miliaran rupiah namun puluhan korban investasi bodong PT Mylva Inti Reksa (MIR) masih mempunyai niat baik. Mereka sempat menempuh jalur kekeluargaan sebelum melaporkannya ke polisi.

Namun upaya puluhan korban investasi bodong menempuh jalur kekeluargaan itu gagal. Lantaran Direktur PT MIR cabang Surabaya, Raden Muhammad Muslim justru menghilang.

"Awalnya pada bulan Juni setelah pencairan hasil investasi masih bisa ditelpon. Ia menjanjikan akan dibayar setelah hari raya," kata salah satu korban, Moulina Mas'udah, kepada detikcom, Selasa (10/7/2018).

Namun, penantian Moulina bersama puluhan nasabah untuk mendapatkan haknya terkait pencairan hasil investasi gagal. Sebab nomor handphone milik Raden Muhammad Muslimin tidak bisa dihubungi.


"Setelah kita dijanjikan pada hari raya akan dilunasi tidak ada kabar. Kita rame-rame datang ke rumahnya yang ada di kawasan Panjang Jiwo," kata Mouslina.

Namun usaha mereka berakhir dengan tangan hampa. Mereka tidak mendapatkan satu kejelasan apapun dari pihak keluarga.

"Kami datang ke rumahnya di kawasan Panjang Jiwo sebanyak tiga kali. Namun hanya sekali ditemui oleh istrinya yang mengaku tidak ikut-ikut. Istri Raden mengaku jika suaminya ada di Bekasi," ungkap Moulina.

Upaya para korban tidak berhenti di situ saja. Mereka kemudian mendatangi kantor PT MIR yang ada di Rungkut Madya .


"Kita terus berupaya meminta kejelasan investasi kita. Kita juga mendatangi kantor mereka yang ada di Rungkut Madya namun sudah tutup," kata Moulina.

Kemudian mereka mendatangi kantor OJK dan Kemenkumham untuk mengecek legalitas PT Mylva Inti Reksa.

"Ternyata perusahaannya tidak hanya di Surabaya saja. Melainkan juga ada di Jakarta. Kita mendapatkan informasi jika kantor di Jakarta juga tutup. Sementara di OJK PT mereka tidak terdaftar," ungkapnya.

Bahkan salah satu korban sempat mempergoki istri Raden tinggal di Apartemen di kawasan Gunung Anyar.

"Ada info dari salah satu korban, jika istrinya tinggal apartemen. Namun saat kita datangi ramai-ramai, lagi-lagi istri tidak peduli," ujar Moulina.

Kesal dengan sikap Raden, puluhan korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Surabaya.

"Kami lapor pada bulan September 2017. Petugas juga mengaku jika sebelumnya sudah ada yang lapor kejadian yang sama. Kemudian kita kumpul bersama-sama untuk menunut kejelasan kepada PT MIR," tandas Moulina.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed