DetikNews
Senin 02 Juli 2018, 20:43 WIB

Ini Pendapat Warga Terhadap Mahasiswa Papua di Malang

Muhammad Aminudin - detikNews
Ini Pendapat Warga Terhadap Mahasiswa Papua di Malang Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Warga Kelurahan Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang, resah dengan rencana pemutaran film kemerdekaan Papua Barat oleh mahasiswa Papua di Jalan MT Haryono gang VIII-C. Rumah tempat dilakukan pemutaran film juga telah habis masa kontraknya, sehingga menyulut warga untuk melakukan klarifikasi.

Ketua RT03/RW04 Kelurahan Dinoyo, Didit Widianto hadir dalam mediasi antara mahasiswa Papua dengan warga di Polres Malang Kota, Senin (2/7/2018) menyatakan, jika pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan RW serta perangkat lain atas kabar yang terima tersebut.

"Kami datang untuk melakukan imbauan, soal diskusi atau pemutaran film yang digelar. Sekaligus menjelaskan soal masa kontrakan rumah yang telah habis," ucap Didit.


Dia menegaskan, tidak ada upaya untuk mengusir mahasiswa asal Papua di wilayahnya. Hanya saja mengingatkan, soal peraturan yang diberlakukan, karena banyak sekali pelanggaran dan keresahan yang ditimbulkan dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari.

"Saya banyak mendapatkan pengaduan, mereka selalu membuat keresahan warga. Kami tidak mengusir saudara dari Papua, tetapi kami ingin mereka menaati aturan yang berlaku," tegasnya.

Sementara Ali Mansur, pemilik rumah turut angkat bicara. Dirinya tidak pernah menolak siapapun yang datang. Apalagi bertujuan menyewa atau mengontrak rumah yang dimilikinya. "Memang banyak warga yang mengeluh, tapi jika saya tolak, maka akan melanggar hak asasi," kata Ali mengawali pembicaraannya.

Ali melanjutkan, tetapi dirinya memiliki kewenangan untuk tegas, soal sewa menyewa atau kontrak rumah yang sudah habis masa berlakunya sejak 20 Juni 2018 lalu.


"Sudah saya sampaikan, minta waktu ya sudah. Lama-lama saya jengkel, karena mereka cenderung mengabaikan. Saya katakan, bisa mempidana anda semua, karena telah menghuni rumah secara paksa milik orang lain. Dengan begitu, kami merasa tidak akan memperpanjang kontrakan lagi," sambung Ali.

Sedangkan perwakilan mahasiswa Papua Yohanes Geyai, sebelum mediasi digelar menyatakan, bahwa pemilik rumah tetap menerima dirinya dan kawan-kawan, dengan memperbolehkan perpanjangan kontrak rumah.

"Kami sudah tinggal selama 9 tahun, kami diterima, dan selalu bayar kontrak. Kemarin, rencananya akan dibayar sebesar Rp 2,5 juta sebagai uang muka. Tapi batal, karena kedatangan orang-orang untuk membubarkan kami," jelasnya terpisah.

Mediasi digelar sejak pukul 2 siang terus berlarut. Mahasiswa Papua tetap bersikukuh mereka diterima oleh masyarakat setempat. Sementara warga bersepakat, menolak mereka karena banyak melanggar peraturan.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed