Saat Pedagang Janur Panen Rezeki di Hari Lebaran Ketupat

Charoline Pebrianti - detikNews
Rabu, 20 Jun 2018 12:19 WIB
Salah satu pedagang janur dan selongsong ketupat (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo - Usai menikmati suasana lebaran, ada salah satu tradisi yang masih terus dijaga hingga saat ini yakni 'kupatan'. Makan ketupat atau yang lazin disebut Lebaran ketupat di Ponorogo dirayakan seminggu setelah lebaran.

Penjual janur dan selongsong ketupat pun banjir pembeli. Mereka membanjiri Pasar Legi Songgolangit. Di sepanjang sisi jalan raya terlihat berderet penjual ketupat. Salah satu penjual kupat, Tutik mengatakan sudah sejak kemarin, Selasa (19/6) berjualan janur dan ketupat.

"Janur itu daun kelapa yang masih muda, bahan utama untuk membuat ketupat," tutur Tutik kepada detikcom, Rabu (20/6/2018).

Tutik menjelaskan ia memang sengaja ikut berjualan janur dan ketupat mendekati Lebaran ketupat. Untuk satu bendel selongsing ketupat buatannya dijual dengan harga Rp 12 ribu isi 10 buah.

"Dalam satu hari saya bisa jual 20 bendel," jelas dia.


Para pedagang janur dan selongsong ketupat berjualan di pinggir jalanPara pedagang janur dan selongsong ketupat berjualan di pinggir jalan (Foto: Charoline Pebrianti)

Meski baru tahun ini berjualan ketupat dan janur, Tutik senang bisa meraup banyak untung. "Hanya saja waktunya cuma sedikit tiga hari saja, dari kemarin, hari ini dan besok saja jualannya," imbuh dia.

Sementara itu, pedagang ketupat lainnya, Kamto menambahkan ia mendapatkan bahan janur dari Trenggalek dan Tulungagung. "Kalau Ponorogo jarang ada janur, biasanya kami ambil dari luar kota," papar dia.

Berbeda dengan Tutik, Kamto sudah menjadi penjual ketupat sejak 20 tahun lalu. "Sekarang banyak pedagang ketupat dadakan, jadi saingannya banyak. Tapi ya tidak apa-apa rejeki ada yang mengatur," tukas dia.

Salah satu pembeli, Puji Astuti menambahkan lebih memilih membeli ketupat daripada janur. "Saya tidak bisa membuat ketupat jadi mending beli yang sudah jadi lebih praktis," terang dia.

Puji sapaannya sering menunggu momen kupatan karena selain silaturahmi juga bisa menikmati makanan bersama keluarga. "Rasanya beda kalau makan pakai ketupat, lebih enak," pungkas dia. (iwd/iwd)