"Menurut saya, pemakaian dalil agama dalam politik praktis menunjukkan tidak adanya percaya diri dan sedemikian putus asa," kata Aan Anshori ketika dikonfirmasi media di Surabaya, Selasa (12/6/2018).
Gus Durian adalah jaringan para murid, pengagum, dan penerus pemikiran serta perjuangan almarhum Gus Dur, panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 dan mantan Ketua Umum PBNU.
Aan melanjutkan, paslon yang membutuhkan fatwa itu tidak punya program konkret untuk meyakinkan publik. Sehingga menggunakan jurus pamungkas yakni dalil agama, apalagi menyebut wajib dan sebagainya.
"Membawa-bawa Tuhan dalam arena politik, menurut saya tidak hanya mempermalukan dirinya sendiri, namun juga Tuhan itu sendiri," terang Kordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi Jawa Timur ini.
Aan memastikan, mereka yang menggunakan dalil agama dalam politik praktis bukanlah seorang pemimpin yang baik. Sebaliknya, itu justru berpotensi akan menyengsarakan publik dalam kebijakannya nanti.
"Membawa-bawa Tuhan dalam arena politik, menurutku, tidak hanya mempermalukan dirinya sendiri, namun juga Tuhan itu sendiri," tegas Aan.
Aan mengatakan bahwa Gus Dur sendiri menggunakan agama sebagai landasan gerakan politiknya namun untuk aspek yang lebih luas. Misalnya, untuk mendorong publik berhati-hati dalam memilih pemimpin, mengingatkan pemimpin agar lebih peka terhadap problem kerakyatan, dan mewanti-wanti calon pemimpin agar tidak menggunakan sentimen agama dalam medan politik praktis.
Gus Dur menurutnya kerap menyitir kaidah fiqih "tasharrufu al-imam 'ala al-ra'iyatihi manutun bi al-maslahah". Yang artinya, keterikatan pemimpin terhadap rakyatnya terletak pada keadilan sosial.
Seperti diberitakan, sejumlah ulama beberapa waktu lalu mengeluarkan fatwa untuk mendukung Calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Calon Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak di Pilkada Jatim.
Fatwa itu menyebut mencoblos Khofifah-Emil hukumnya Fardhu Ain yang artinya wajib bagi setiap umat Islam seperti kewajiban salat, zakat, dan puasa.
Mengutip dalil kitab Islam kuno, para ulama pendukung Khofifah-Emil juga menyebut, umat Islam yang tidak mendukung Khofifah sama dengan mengingkari Tuhan dan Rasul-Nya. (ze/iwd)










































