Ini Upaya Polisi Sediakan Rest Area Darurat di Tol Fungsional

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Kamis, 07 Jun 2018 13:29 WIB
Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Heri Wahono (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya - Mengantisipasi dan menurunkan angka kecelakaan saat arus mudik dan balik lebaran, polisi mempunyai berbagai upaya. Salah satunya melalui kerja sama dengan beberapa pihak seperti Jasa Marga hingga Pertamina.

"Untuk antisipasi kemacetan, kami sudah koordinasikan ke pihak tol Jasa Marga dan Pertamina untuk menyediakan rest area darurat," ujar Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Heri Wahono di Surabaya, Kamis (7/6/2018).

Penyediaan rest area darurat ini diharapkan mampu menjadi tempat beristirahat pemudik untuk mengurangi kelelahan hingga kantuk yang biasanya menjadi penyebab kecelakaan. Menurut Heri, di ruas tol fungsional yang hanya dibuka saat lebaran saja, rest area yang ada sangat minim.

"Karena di ruas tol fungsional ini sangat minim rest area. Kami berkoordinasi dengan mereka untuk membuka rest area darurat," lanjutnya.


Tak hanya itu, Heri juga mengusulkan ke Pertamina untuk menyediakan SPBU portabel, SPBU keliling hingga bahan bakar dalam kemasan di beberapa ruas jalan tol. Karena di tol fungsional belum tersedia SPBU, hal ini juga penting agar pengendara tidak sampai kehabisan bahan bakar saat berada di jalan tol.

"Nantinya di sana ada SPBU portabel, SPBU keliling dan lain sebagainya. Terus kemudian dari Pertamina ada gerai yang menjual BBM dalam kemasan dan ini mengantisipasi masyarakat yang balik kehabisan bahan bakar, dan ada toko-toko untuk menyiapkan makanan," tambahnya.

Selain menyediakan rest area hingga SPBU portabel, Heri mengaku memiliki beberapa program untuk mengantisipasi kecelakaan lalu lintas. Misalnya saja program OK Bos untuk mendiagnosa titik-titik rawan kecelakaan.

"Untuk jalur laka kami sudah antisipasi dengan OK Bos atau Open Karo Black on the Spot. Kami mendiagnosa atau menerapi titik titik laka hingga black spot, " papar Heri.

Tak hanya itu, kendati di jalan tol rawan laka tunggal karena seringnya pengendara melaju dengan kecepatan tinggi, ada pula program OSLAI atau Over Speed Low and Imposement. Dalam OSLAI, Ditlantas Polda Jatim menggunakan speed gun untuk mengecek kecepatan pengendara.


"Kemudian kami bikin program OSLAI atau Over Speed Low and Imposement. Nanti akan ada penegakan hukum terhadap pelanggaran kecepatan, terutama di jalan tol. Ahamdulillah kami bisa menindak kurang lebih 300 pelanggar. Karena ada batas kecepatan di tol, yakni minimal 60 km dan maksimal 100 km per jam," imbuh Heri.

Selama mudik lebaran 2018 ini, Heri memprediksi akan ada peningkatan jumlah kendaraan sekitar 10%. Hal ini karena terjadi pula peningkatan pemudik seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.

"Kemungkinan jumlah kendaraan akan meningkat, pemudik juga akan bertambah karena pertumbuhan penduduk meningkat apalagi jumlah kendaraan semakin banyak. Ya, sekitar 10 persen peningkatannya," pungkasnya. (iwd/iwd)