2 Tahun, Kasus Pernikahan Anak di Tulungagung Meningkat

Adhar Muttaqin - detikNews
Kamis, 24 Mei 2018 10:09 WIB
Foto: Thinkstock
Tulungagung - Jumlah pernikahan anak di bawah umur wilayah Tulungagung meningkat selama 2 tahun. Ini sesuai data dispensasi nikah yang dikeluarkan Pengadilan Agama (PA) setempat.

Kepala Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) Tulungagung Sunarto, mengatakan dari data PA Tulungagung tahun 2016 ada 120 dispensasi nikah. Sedangkan tahun 2017 meningkat menjadi 190 dispensasi nikah.

"Artinya terjadi peningkatan yang signifikan. Akan tetapi tidak semua perkara dispensasi nikah itu sampai masuk ke kami. Dari ratusan itu hanya sekitar lima kasus yang ke PSAI," kata Sunarto, Kamis (24/5/2018).

Dia menjelaskan tingginya dispensasi nikah untuk anak di Tulungagung terjadi karena beberapa hal. Mulai dari pacaran yang mengkhawatirkan, kehendak orang tua hingga kasus hamil di luar nikah.

Khusus untuk kasus kehamilan di luar nikah, menurut Sunarto, dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya dari pola pengasuhan keluarga, pergaulan, lingkungan hingga terpengaruh oleh pemanfatan alat komunikasi yang salah.

"Kalau kami tarik dari beberapa kasus, terutama pengaruh dari asah asih asuhnya, jadi mulai dari tumbuh kembang gizi, tata nilai yang diberikan kepada anak, kemudian komunikasi dan keteladanan pada anak itu sangat berpengaruh," ujar Narto.

Dalam melakukan pengasuhan orang tua hendaknya memberikan keteladanan serta menanamkan sikap, perilaku serta tindakan terkait dengan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan anak maupun persoalan yang bisa mengancam masa depan.

"Apakah orang orang tuanya mampu atau tidak? kalau tidak mampu ini yang menjadi masalah, kemudian orang tuanya ada atau tidak ? kalau tidak ada, itu juga menjadi kerentanan," imbuh Kepala PSAI ini.

Sedangkan pergaulan dan lingkungan juga mengambil peran yang cukup besar terhadap perilaku anak. Seharusnya, lingkungan memberikan peringatan dan edukasi kepada anak yang dinilai mulai menunjukkan perilaku yang melanggar norma maupun aturan, sehingga tidak kebablasan dan terjadi hubungan di luar nikah.

"Jangan dilakukan pembiaran, anak-anak harus diingatkan," imbuh Sunarto.

Aktivis perlindungan anak ini menjelaskan, perkembangan alat komunikasi utamanya telepon pintar juga cukup berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Orang tua seharusnya memberikan kontrol yang ketat terhadap pemberian alat komunikasi. Mengingat dengan kecanggihan telepon pintar, komunikasi dengan lawan jenis bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Orang tua harus komuikasi untuk apa HP-nya, jangan justru gaptek (gagap teknologi)," imbuhnya.

Menurutnya kasus terakhir yang terjadi adalah siswa kelas V SD yang menghamili pacarnya yang duduk di bangku SMP. Persoalan itu saat ini sedang dilakukan proses penyelesaian dan diajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama Tulungagung.



Tonton juga 'KPAI Imbau KUA Tidak Berikan Izin Pernikahan Dini':

(fat/fat)