DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 18:33 WIB

PVMBG: Longsor Raung karena Hujan, Bukan Hutan Gundul

Ardian Fanani - detikNews
PVMBG: Longsor Raung karena Hujan, Bukan Hutan Gundul Foto: (Avicenna M./File d'Traveler)
Banyuwangi - Fenomena bencana tanah longsor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di kawasan lereng Gunung Raung Banyuwangi murni disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi.

Hal ini disampaikan Perekayasa Madya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Imam Santosa dalam sosialisasi laporan hasil kajian pemeriksaan gerakan tanah/longsor di Banyuwangi, Selasa (22/5/2018).

"Sudah kami cek langsung ke atas, ternyata hutannya masih sangat lebat. Jadi bukan karena hutan gundul seperti yang kami duga. Kesimpulannya, ini murni faktor alam yaitu curah hujan yang tinggi sehingga mengakibatkan pergeseran tanah," terang Imam.

Hujan dengan intensitas inilah yang akhirnya mengikis permukaan tanah di lereng gunung sehingga menimbulkan pergesaran tanah atau yang dikenal dengan longsoran.


Berdasarkan pantauan PVBMG, Imam mengungkapkan areal longsor di hulu sungai Badeng tersebut cukup luas. Longsor yang terjadi di kawasan Raung ini mencapai ketinggian 390 meter dengan lebar 40-50 meter.

"Sekali lagi kami tegaskan, ini bukan akibat kontaminasi manusia. Karena lokasi longsor ini di hutan yang sangat tinggi, yang sangat susah dijangkau, sehingga mustahil bagi orang melakukan aktivitas di lokasi semacam ini, seperti menebang pohon, alih lahan dan lainnya. Kemarin saja, untuk cek lokasi longsornya, saya dan tim butuh lima jam perjalanan menuju lokasinya," paparnya.

Ditambahkan Imam, saat longsor beberapa waktu lalu, reruntuhan material dari tebing mencapai 1-2 juta meter kubik, berupa tanah, pasir, lumpur, dan pepohonan tumbang akibat pergeseran tanah. Material tersebut kemudian menimbun sungai Badeng yang menyebabkan peningkatan sedimentasi di sungai tersebut. "Reruntuhan material inilah yang meningkatkan potensi banjir bandang," jelasnya.


Untuk itu, Imam meminta Pemkab untuk mengajak warga yang tinggal di sekitar aliran Badeng agar lebih waspada terhadap ancaman banjir bandang yang bisa terjadi sewaktu-waktu. "Ada 14 desa dan empat kecamatan yang berpotensi terdampak bencana ini," ujar Imam.

Imam lalu merekomendasikan beberapa tindakan mitigasi yang perlu dilakukan Pemkab bersama warga. Mulai dari membentuk forum warga untuk memudahkan berkomunikasi, hingga pemasangan CCTV di kawasan hulu.

"Bisa juga membuat sabo dam/tanggul penahan luapan banjir untuk mewaspadai air di hilir jika tiba-tiba berhenti Jika memang terjadi sumbatan di hulu, maka warga harus segera melakukan pembobolan secara perlahan untuk mengurangi volume air yang tertampung di sana," lanjutnya.


Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi Fajar Suasana menyatakan akan menindaklanjuti rekomendasi dari PVBMG tersebut. Pihaknya memastikan akan segera membentuk tim khusus pemantau kondisi di hulu.

"Akan ditindaklanjuti. Kami akan melibatkan warga pencari burung atau madu dengan cara meningkatkan pengetahuan mereka tentang tanda-tanda potensi banjir. Jadi saat mereka ke hutan dan melihat tanda-tanda itu, mereka bisa segera melaporkan kepada kepala desa setempat," kata Fajar.

Dia menambahkan, Banyuwangi sendiri sudah melakukan berbagai upaya mitigasi banjir bandang. Mulai dari normalisasi aliran sungai, pembersihan sendimentasi, hingga pelatihan penanggulangan bencana bagi relawan dan warga daerah potensi terdampak bencana. "Ini kami lakukan dengan kolaborasi bersama SKPD terkait," pungkasnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed