Persembahan Kepala Kerbau, Awali Musim Giling PG Soedhono Ngawi

Sugeng Harianto - detikNews
Selasa, 08 Mei 2018 16:40 WIB
Potongan kepala kerbau diletakkan di atas mesin penggilingan. (Foto: Sugeng Harianto)
Ngawi - Pabrik gula yang berdiri di Pulau Jawa lumrah melakukan ritual tertentu ketika akan memulai musim giling. Tak terkecuali di Pabrik Gula (PG) Soedhono Ngawi.

Di pabrik yang berdiri sejak tahun 1800-an ini terdapat ritual mempersembahkan potongan kepala kerbau. Selain sebagai penolak bala, ritual ini juga diyakini demi keselamatan dan kesejahteraan karyawan.

"Potongan kepala kerbau ini segar, setiap tahun di awal musim giling seperti ini. Ini tradisi tolak balak yang merupakan budaya adat jawa juga di percaya untuk kesejahteraan dan keselamatan karyawan," jelas Nuril Huda, Manager PG Soedhono kepada detikcom, Selasa (8/5/2018).


Untuk mendapatkan kepala kerbau, lanjut Nuril, pihaknya harus memesan kepada seorang jagal di Blora, Jawa Tengah. Kepala kerbau itu kemudian dihias dengan kalung bunga melati dan disandingkan dengan patung temanten (pengantin) di atas mesin giling tebu. Ada juga hiasan janur kuning di samping patung temanten.

"Kita harus pesan dulu kepala kerbaunya, karena Ngawi jarang yang sembelih kerbau jadi cari sampai Jawa Tengah," paparnya.

Persembahan Kepala Kerbau, Awali Musim Giling PG Soedhono NgawiPengantin tebu diarak menuju PG Soedhono Ngawi. (Foto: Sugeng Harianto)

Nuril menuturkan setelah dilakukan persembahan kepala kerbau, juga dilakukan ritual methil tebu (memetik tebu, red) sebanyak 20 batang. Untuk ritual kali ini, ke-20 batang tebu diambil dari Desa Sidorejo yang berjarak sekitar 5 km dari PG Soedhono.

Setelah itu semua tebu tersebut diangkut dengan kendaraan menuju terminal induk Geneng. Dari terminal, tebu-tebu ini diarak menuju PG Sedhono yang berjarak 1 km. Masing-masing batang tebu dibawa oleh satu orang pria yang memakai beskap atau pakaian adat Jawa.


Kemudian ada 2 batang yang dibungkus dengan kain putih dan dihias janur kuning. Saat diarak, keduanya juga diiring putri domas dan manggolo, bak pengantin.

"Dua batang tebu dari 20 batang ini melambangkan pasangan temanten yang baru nikah. Ini melambangkan pabrik gula yang akan memulai giling tebu," tutur Nuril.

Sebagai simbol, ada pula sepasang pengantin yang dinaikkan ke atas kereta kuda. "Pasangan temanten tersebut yang pria diberi nama Bagus Rosan dan Roro Ayu Gendis Manis. Rosan itu artinya garis yang ada pada batang tebu dan gendis artinya gula. Penganten tebu kita arak dan di giling untuk simbolis saja," terangnya lagi.

Diiringi kesenian dongkrek dan reog, arak-arakan pengantin tebu berjalan menuju tempat penggilingan untuk dilangsungkan ritual. Setelah didoakan untuk keselamatan dan kesejahteraan, ke-20 batang tebu dimasukkan ke penggilingan secara bergiliran.

Persembahan Kepala Kerbau, Awali Musim Giling PG Soedhono NgawiFoto: Sugeng Harianto


Ritual persembahan kepala kerbau dan pengantin tebu ini memang rutin dilakukan oleh PG Soedhono setiap tahun. Bahkan jika tidak digelar, karyawan PG Soedhono pun meyakini akan ada musibah yang menimpa perusahaan mereka.

"Pernah dulu tetap merayakan manten tapi kepala kerbaunya hanya replika. Ada musibah sering kecelakaan kerja. Ada yang pernah jatuh dari atas mesin meninggal dunia," terang salah satu karyawan, Edi (47).

Hingga saat ini, PG Soedhono Geneng Ngawi masih beroperasi. Pabrik yang berada di bawah naungan PTPN XI ini mampu menggiling 450 ribu ton tebu dalam sehari atau sekitar 9.400 ton dalam setahun.

Namun untuk tahun ini, PG Soedhono menargetkan bisa memproduksi gula pasir sebanyak 19.500 ton. (lll/lll)