Serunya Lomba Membangun Jembatan di Petro Civil Expo UK Petra

Suryaman Candi - detikNews
Senin, 07 Mei 2018 12:05 WIB
Foto: Suryaman Candi
Surabaya - Para mahasiswa dari berbagai kampus duduk melingkar saling berhadapan. Di depan mereka ada stik-stik kayu dengan panjang yang beragam. Mereka tampak sibuk menyusun stik kayu itu menjadi sesuatu yang bermakna.

Inilah suasana Petro Civil Expo yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Kristen Petra yang baru saja rampung digelar di Grand City Mal Surabaya, Jumat-Minggu (4-6/5) kemarin.

Kompetisi membangun ini sengaja diadakan untuk memperkaya pengetahuan peserta tentang perkembangan pasar di bidang teknik sipil. Total ada tiga jenis kompetisi yang diselenggarakan, yaitu Bridge Competition, Lomba Kuat Tekan Beton dan Earthquake Resistant Design.

Serunya Lomba Membangun Jembatan di Petro Civil Expo UK PetraFoto: Suryaman Candi



Ketua Petro Civil Expo 2018, Dennis Wijaya mengungkapkan, peserta berasal dari seluruh Indonesia, namun kemudian disaring lagi melalui tahap penyisihan.

Semisal untuk Bridge Competition. Pesertanya adalah 130 tim mahasiswa dan 80 tim siswa SMA. Setelah penyisihan hanya tersisa 21 tim mahasiswa dan 15 tim untuk kategori siswa SMA. Kemudian masing-masing tim peserta diminta membuat jembatan dengan panjang 30-40 cm dan tinggi 15 cm.

Semua bahan berupa 14 kayu balsa serta bahan-bahan pendukung lainnya seperti lem dan kertas disediakan oleh panitia. Mereka hanya diberi waktu selama lima jam untuk mewujudkan misi tersebut.

"Nanti penilaiannya dari presentasi, terus seberapa efisien bahan yang dipakai, dan berapa beban maksimal yang bisa digantung," terang Dennis kepada detikcom, Senin (7/5/2018).

Sedangkan dalam Earthquake Resistant Design Competition tersisa 10 tim dari 60 tim yang ambil bagian. Bahannya juga hampir sama dengan Bridge Competition, namun panitia juga memberi bahan tambahan yang nantinya digunakan sebagai beban.

Gabriella Yuki, koordinator Earthquake Resistant Design Competition menjelaskan, ada perbedaan dengan perlombaan yang digelar di tahun kemarin.

Tahun ini, beban diharuskan diletakkan di salah satu sisi bangunan, alih-alih meletakkannya di tengah. Menurutnya, gebrakan ini berupaya merespons kenyataan bahwa bangunan-bangunan yang ada dewasa ini kebanyakan tidak simetris.

"Kalau kita lihat sekarang, kan, bangunan-bangunan banyak yang tidak simetris. Otomatis bebannya bukan di tengah, tapi di titik di mana bangunan itu paling berat. Makanya aturannya saya ubah, bebannya ditaruh di sisi bangunan," jelas Gabriella.

Tak hanya itu, setelah selesai, maket yang dibuat peserta juga diuji pada meja getar dengan tiga tingkat frekuensi.

"Pada tingkat pertama 1,8 Hz selama 20 detik, tingkat kedua 2,3 Hz selama 30 detik dan yang terakhir 3 Hz selama 40 detik," papar Gabriella.

Serunya Lomba Membangun Jembatan di Petro Civil Expo UK PetraFoto: Suryaman Candi



Pada Lomba Kuat Tekan Beton, para peserta diminta membuat sampel silinder beton dengan lima jenis bahan, semen, pasir, air, kerikil, serta bahan khusus perekat, Admixture.

Dennis mengatakan bahwa penilaiannya dilihat dari komposisi bahan yang digunakan masing-masing tim. Semakin sedikit campuran semennya maka akan semakin tinggi nilai yang dihasilkan. Meskipun demikian, kekuatan beton juga tetap menjadi perhatian.

"Ini hasilnya udah keluar dan 10 kelompok akan jelaskan beton mereka, mulai dari kenapa komposisinya seperti itu, terus cara mencampur bahan juga. Karena kan itu ada tekniknya juga," ujar Dennis.

(lll/lll)