DetikNews
Kamis 26 April 2018, 14:05 WIB

Simpang Siur Korban Miras, Polisi Terjunkan Tim untuk Cari Tahu

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Simpang Siur Korban Miras, Polisi Terjunkan Tim untuk Cari Tahu Pemusnahan miras (Foto: Deni Prastyo Utomo)
Surabaya - Banyak kesimpangsiuran soal korban miras di Jawa Timur. Di media pun ada perbedaan tentang itu. Versi polisi pun terkadang juga berbeda dengan versi dari yang lain.

Polda Jawa Timur menerjukan tim guna melihat kebenaran itu. Tim ini akan mendata jumlah korban-korban akibat minuman keras oplosan.

"Yang meninggal masih didalami. Versi media macam-macam ada yang 13 dan 15. Kami turunkan tim untuk melihat kebenarannya. Jangan meninggal karena yang lain dibilang karena minuman keras. Nanti akan digali dari segi fisik, keterangan dokter, apakah dari muntahannya, jangan mati-mati dikumpulin karena minuman keras," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin di Surabaya, Kamis (26/4/2018).

Pihak kepolisian, lanjut dia, tidak akan menutup-nutupi jumlah korban yang akibat minuman keras oplosan. Machfud menegaskan, minuman keras terutama yang oplosan adalah musuh bersama untuk itu telah jajarannya diperintahkan untuk memeranginya.


"Kami tidak menutup-nutupi. Kami tidak dapat apa-apa karena minuman keras musuh kita bersama. Hajar, hajar saja," ujarnya.

Sementara, untuk membuat efek jera produsen minuman keras oplosan, Machfud merumuskan pasal-pasal yang dapat menahan produsen. Pasal ini juga untuk menahan pengedar jika memang itu minuman keras oplosan.

Menurutnya, baik itu dari Undang-undang Perlindungan Konsumen, Undang-undang Kesehatan dan juga Undang-undang Pangan, jika dapat membahayakan keselamatan orang lain maka perlu dihukum.

"Kami melihat jangan hanya kena tim ini, apalagi sudah menimbulkan korban banyak ini. Kalau tindak pidana ringan (Tipiring), enak amat cuman dikasih tipiring. Ini dikasih pasal pemberatan," katanya.


Tak hanya itu, pihak kepolisian akan gencar melakukan operasi miras oplosan yang mengakibatkan orang mati. Apalagi memproduksi tanpa izin dengan skala besar walau hanya sekelas kampung seperti yang terjadi di Tuban, di Kediri.

Dalam hal ini, Machfud menekankan pihaknya akan lebih mengedepankan pencegahan. Untuk itu polisi akan berkoordinasi dengan pihak lain seperti kejaksaan guna bersama melakukan pencegahan.

"Kalau ilegal kami tindak. Tapi kalau polisi terlibat, pasti akan ditindak. Polisi tahu hukum, jangan melanggar hukum. Kami tindak tanpa pandang bulu," ujarnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed