DetikNews
Minggu 15 April 2018, 18:28 WIB

Pabrik Pengalengan Ikan di Indonesia Masih Banyak Gunakan Ikan Impor

Ardian Fanani - detikNews
Pabrik Pengalengan Ikan di Indonesia Masih Banyak Gunakan Ikan Impor Pegawai memindahkan ikan yang hendak diproses 9Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - 80 persen ikan yang digunakan pabrik pengalengan ikan di Indonesia masih menggunakan ikan impor. Saat ini ada 44 pabrik pengalengan ikan di seluruh Indonesia. 28 pabrik mengelola ikan Sarden dan Makarel sedangkan sisanya mengelola ikan tuna.

Pada tahun 2017, Indonesia mengimpor ikan sarden dan makarel sekitar 40 ribu ton, padahal kapasitas dari 28 pabrik dalam setahun bisa mengolah hingga 235 ribu ton sarden dan makarel. Sedangkan kapasitas pengelolaan ikan tuna per tahun bisa 365 ribu ton.

"Nah pada tahun 2017 ikan yang digunakan 80 persen adalah ikan impor. Untuk sarden makarel kami hanya mengelola 1/6 dari kapasitas kemampuan kita. Sangat sedikit. Untuk tuna juga hanya mengelola di bawah 30 persen dari kapasitas kemampuan. Untuk memenuhi kekurangannya kami ambil ikan lokal tapi kalau nggak ada ya segitu saja yang kita produksi," jelas Ady Surya, Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan (APIKI) kepada detikcom, Minggu (15/4/2018).


Sebenarnya, kata Ady, pengusaha pabrik ikan dalam kaleng lebih suka menggunakan ikan dalam negeri karena selain harganya lebih murah, proses mekanismenya tidak begitu panjang."Jika ikan dalam negeri, setelah ditangkap kemudian masuk pabrik dan prosesnya cepat. Harganya juga antara 7 ribu hingga 8 ribu. Beda dengan ikan impor bisa 11 ribu dan mekanismenya panjang," jelas Ady.

Namun saat ini, ikan sarden dan makarel menghilang di perairan Selat Bali. "Kalau tuna terkonsetrasi di Bitung sedangkan sarden makarel terkonsetrasi di Bali, Muncar, Pekalongan dan Medan. Saat ini ikannya memang sudah tidak ada di Selat Bali. Sebelumnya 100 persen ikan sarden dan makarel berasal dari perairan Selat Bali. Sekarang kami impor dan hanya 20 persennya dari Indonesia bagian timur," jelas Ady.

Ia mengatakan belum ada teori dari ahli yang menjelaskan alasan mengapa ikan sarden dan makarel hilang dari perairan Selat Bali. Namun ikan tersebut menghilang pascagempa di Selatan Jawa sekitar tahun 2000-an dan kemudian muncul ikan krismon di wilayah Pantura.

"Saya masuk tim analisa statistik lemuru saat ini. Tapi sampai sekarang tidak ada keputusan penyebabnya apa," jelas Ady.


Sebenarnya, menurut Ady, ikan jenis sarden dan makarel mungkin ada di Indonesia bagian timur namun pabrik pengalengan ikan membutuhkan bahan mutu yang paling standar untuk ikan konsumsi yang digunakan yaitu harus fresh from the sea, yaitu ikan yang ditangkap dari laut langsung dibekukan di atas kapal, bukan ikan yang ditangkap lalu di bawa ke pelabuhan kemudian dilelang.

"Dengan proses beku di atas kapal, semuanya clear. Parasit juga mati. Jadi standar ikan kaleng sangat tinggi," tambahnya.

Dia berharap Indonesia memiliki kapal yang memiliki kemampuan tangkap yang baik dan memiliki kapal penampung untuk pembekuan ikan. Hal tersebut sangat diperlukan karena melihat kondisi saat ini dengan tidak adanya kapal asing yang menangkap ikan di perairan Indonesia.

"Jadi walaupun ikannya banyak tapi tidak melewati proses pembekuan di atas kapal ya tidak bisa digunakan di pabrik pengalengan ikan," jelasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed