DetikNews
Kamis 12 April 2018, 21:05 WIB

Angka Perceraian Tinggi, Hakim PA Sidoarjo Sering Pulang Malam

Suparno - detikNews
Angka Perceraian Tinggi, Hakim PA Sidoarjo Sering Pulang Malam Wakil Bupati Sidoarjo mengaku prihatin dengan tingginya angka kasus perceraian di wilayahnya. (Foto: Suparno)
Sidoarjo - Angka perceraian di Sidoarjo ternyata cukup tinggi, yaitu mencapai lebih dari 4.000 kasus hanya dalam kurun tahun 2017 saja.

"Total kasus yang ditangani PA saat ini sebanyak 5.000-an kasus, dan yang paling banyak adalah kasus perceraian. Jumlahnya mencapai 4.000-an kasus," kata Kepala Pengadilan Agama (PA) Sidoarjo, Muhammad Jauhari kepada wartawan, Kamis (12/4/2018).

Jauhari menjelaskan kondisi mental pasangan yang labil atau gampang goyah menjadi penyebab utama tingginya kasus perceraian di Sidoarjo. Ditambah lagi mereka kurang mendapatkan pendidikan pranikah.

Sedangkan faktor ekonomi dan pengaruh pihak ketiga menjadi penyebab kedua dan ketiga dari perceraian di Kota Udang.

Tingginya kasus perceraian yang ditangani ini pun tak pelak membuat PA Sidoarjo kewalahan karena jumlah hakim yang sangat terbatas. Bahkan menurut Jauhari, para hakim yang menangani sidang perceraian sering pulang malam demi menyelesaikan proses sidang.


Untuk itulah pihaknya menggelar Program Sidang Keliling, yang diharapkan dapat membantu mempercepat proses penanganan kasus perceraian. "Istilahnya jemput bola," imbuhnya.

Selain kasus perceraian, program Sidang Keliling ini juga menangani permasalahan sengketa harta waris, perubahan nama di akta nikah dan sidang isbat (pengesahan) perkawinan bagi pasangan yang sudah nikah siri kemudian difasilitasi agar mengurus akta nikah.

"Terus terang pihak PA kewalahan menangani kasus perceraian karena jumlah hakim yang menangani sangat terbatas, maka kita coba melakukan terobosan dengan melakukan Sidang Keliling di kecamatan-kecamatan untuk jemput bola," tambah Jauhari.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin mengaku prihatin melihat tingginya kasus perceraian di wilayahnya. Wabup pun membenarkan jikalau pasangan muda saat ini minim pengetahuan tentang pranikah, padahal pemahaman masalah pranikah sangat penting bagi setiap calon pengantin.

"Balai Nikah yang ada di KUA (Kantor Urusan Agama) harus lebih serius dalam menyelenggarakan pendidikan pranikah. Selama ini pasangan yang akan menikah terkadang tidak memiliki wawasan yang cukup untuk menikah. Mereka tidak mengerti kewajiban suami, kewajiban isteri dan makna serta filosofis tentang anak," papar Nur Achmad Syarifuddin.


Pria yang akrab disapa Cak Nur ini juga mengungkapkan bahwa rendahnya pemahaman dan kurangnya wawasan pernikahan itu dapat menyebabkan angka KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) juga menjadi tinggi.

"Memang saya akui kesemua itu sebenarnya permasalahan yang cukup kompleks. Namun demikian itu menunjukkan juga lemahnya wawasan mereka tentang pernikahan. Karena itu pendidikan pranikah harus diperkuat," pinta Cak Nur.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed