Ketika Anak-anak Difabel Mendesain Batik di Lamongan

Eko Sudjarwo - detikNews
Rabu, 04 Apr 2018 15:55 WIB
Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Di Indonesia, setiap daerah memiliki corak dan motif batik tersendiri, tak terkecuali Lamongan. Lamongan sendiri mempunyai batik dengan corak dan motif yang lebih dikenal dengan motif bandeng lele.

Untuk mengenalkan sekaligus melestarikan motif ini, lomba desain batik Lamongan pun digelar untuk pelajar. Menariknya, perlombaan ini tidak hanya diikuti pelajar biasa, melainkan juga penyandang difabel.

"Even ini ingin mengenalkan warna batik yang beraneka ragam, motif yang beragam dan menggambarkan banyak hal di sekelilingnya atau bercerita mengenai kebanggaan budaya yang telah berumur ratusan tahun," Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Muhammad Zamroni kepada detikcom, Rabu (4/4/2018).

Untuk peserta difabel, Zamroni mengungkapkan ada 7 pelajar penyandang difabel yang ikut serta. Dua di antaranya adalah siswa SMPLB dan lima siswa SMALB.

Ketujuh pelajar SLB ini mengaku mengikuti lomba desain batik khas Lamongan ini tanpa target apapun. Mereka hanya berupaya untuk mendesain motif batik seindah mungkin.

"Tidak tahu, lihat dulu yang lain. Ini karya orisinal sendiri, kreasi sendiri," ujar Lika, sapaan akrab Iklimatus Solihah, salah satu dari 7 pelajar difabel.
Ketika Anak-anak Difabel Mendesain Batik di LamonganFoto: Eko Sudjarwo

Lika mengaku, mereka justru merasa senang dan bangga karena bisa bersaing dan berbaur dengan pelajar-pelajar lain. Bahkan, demi mengikuti ajang ini, Lika mengaku sudah menyiapkannya selama satu bulan lebih.

"Selama satu bulan belajar melukis dan membatik dengan tekun," kata Lika yang menyampaikan pernyataannya melalui bantuan salah seorang guru penerjemah bahasa isyarat.

Hasil belajar membatik para pelajar difabel ini pun tak sia-sia. Salah satu dari 7 pelajar SMALB bernama A Rifqi mampu bersaing dengan siswa lainnya dengan keluar sebagai juara tiga.

Sayangnya di tingkat SMP, tak ada satu pun nama dari dua siswa SMPLB yang dinobatkan sebagai juara. "SMA 2 dan SMA 1 bagus-bagus, belakang saya tadi bagus-bagus," ujar Lika.

Bagi para pemenang lomba, Disperindag Lamongan mengganjar mereka dengan hadiah total sampai dengan Rp 30 juta, di samping piagam dan piala. Bahkan untuk tiap tingkatan sekolah, SMP dan SMA, dipilih sampai 15 juara.

Selain itu, Zamroni menambahkan, sejumlah kreasi yang dihasilkan pelajar ini dapat dituangkan dalam desain baju Dinas Pendidikan Lamongan atau desain seragam sekolah asal mereka.

"Dinas Pendidikan sudah kita komunikasikan. Yang juara nanti itu akan dijadikan desain batik untuk anak-anak sekolah," pungkas Zamroni.

(lll/lll)