Pasca Temuan Cacing Parasit, Pabrik Ini Liburkan Ribuan Buruh

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 02 Apr 2018 15:22 WIB
Pengolahan ikan makarel/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Pasca ditemukan cacing di dalam produk ikan makarel oleh BBPOM, CV Pasific Harvest memilih menghentikan produksi ikan makarel. Hal ini berimbas kepada hampir ribuan buruhnya. Selama seminggu mereka tidak bekerja.

"Sudah seminggu ini kita libur imbas dari cacing. Tidak tahu kapan dipanggil lagi," ujar Siti Husna, salah satu buruh pabrik keadaan detikcom, Senin (2/4/2018).

Husna mengaku, terakhir bekerja setelah ada kabar adanya cacing parasit di kaleng ikan makarel yang diproduksi. "Kalau kesalahan kita ya tidak. Karena kita bersihkan sampai bersih perut ikan itu. Kita tidak mau disalahkan," tambahnya.

Sementara itu, Ronny Fajar Laksana, manager produksi PT Pasific Harvest mengakui ada sekitar 3 ribu orang yang bekerja di pabrik yang berada di Kecamatan Muncar tersebut. Saat ini hanya 10 persen atau sekitar 300 an orang pekerja tetap.

"Yang lainnya ya kita liburkan dulu setelah kami medapatkan surat edaran terkait temuan tersebut," jelas Ronny kepada detikcom.

Produksi yang saat ini dilakukan hanya untuk menghabiskan stok ikan sarden yang ada, sementara untuk ikan makarel sudah tidak lagi dilakukan. Selain itu pihaknya juga menghentikan pembelian ikan beku dari luar negeri dari Cina dan Jepang. Otomatis mereka akan berhenti produksi sementara hingga ada keputusan dari yang berwenang.

"Kita terpaksa menggunakan ikan impor beku karena kesulitan mendapatkan ikan dari dalam negeri. Jika ada ikan dari dalam negeri, kami tidak perlu impor lagi. Lebih baik menggunakan ikan langsung dari Indonesia. Tapi kami kesulitan untuk mendapatkannya," katanya.

Rata-rata perbulan CV Pasific Harvest impor bahan baku ikan beku 500 ton baik jenis ikan sarden ataupun ikan makarel. Setelah diproses, ikan dalam kaleng tersebut akan dikirim ke luar negeri antara lain wilayah Afrika, Eropa Timur, Asia Tenggara dan negara di Timur Tengah.

"Hampir 60 persen produk yang kami produksi adalah untuk kebutuhan luar negeri," pungkas Ronny. (fat/fat)