Fenomena Warung Kopi di Surabaya dan Kisah Para Pemburu WiFi

Suryaman Candi - detikNews
Selasa, 27 Mar 2018 11:52 WIB
Fenomena perang WiFi di warung warung kopi kecil di Surabaya (Foto: Suryaman Candi/detikcom)
Surabaya - Di berbagai sudut Kota Surabaya, biasa terlihat warung-warung kopi kecil yang penuh anak-anak asyik menatap layar gadget. Ada juga pria dewasa. Duduk semaunya, kadang kaki diangkat ke kursi. Sedang apa mereka?

Seperti terlihat di salah satu warung kopi Jalan Nginden, Semolo, Sukolilo, Surabaya, Senin (26/3/2018). Suasana ramai. Si pemilik warkop, Alwit Setiawan (30) atau disapa Gundul, senang dengan kondisi itu.

"Di sini berbaur Mas. Orang datang, ngobrol-ngobrol. Main game sama-sama juga bisa," jelas Gundul kepada detikcom.


Gundul memasang WiFi sebagai penarik pembeli. Jadi meski yang ditawarkan hanya kopi dan minuman sachet seharga Rp 4.000 serta cemilan seperti kerupuk, warungnya ramai. Pembeli betah berjam-jam. Paling sedikit 2-3 jam.

"Kalau ada WiFi mereka betah. Jadi pesan (kopi) terus. Habis, pesan lagi, habis, pesan lagi. Tapi, ya, memang ada juga yang cuma satu kali pesan, duduknya lama. Tapi nggak masalah," ujar Gundul yang mengaku omzet warungnya kadang bisa sejuta lebih dalam sehari.

Fenomena Warung Kopi di Surabaya dan Kisah Para Pemburu WiFiFoto: Suryaman Candi/detikcom
Hanif (16), pelajar SMA, jadi pelanggan warkop Gundul. Ia mengaku menghabiskan banyak waktu bermain game online bersama teman-temannya. Hampir setiap hari setelah pulang sekolah, ia nongkrong ke warung kopi dan memanfaatkan fasilitas WiFi di warung kopi.

"Biasa kalau habis pulang sekolah langsung nongkrong, sering dicariin sama orang rumah. Karena pulangnya sampe maghrib," katanya enteng.


Bukan kopi atau minuman sachet yang jadi tujuan utama Hanif, melainkan WiFi. Ia mengaku lama tidaknya di suatu warung kopi bergantung pada kualitas WiFi.

"Kalau koneksinya udah ngawur, pindah. Cari warung kopi lain," ungkap Hanif.
Fenomena Warung Kopi di Surabaya dan Kisah Para Pemburu WiFiFoto: Suryaman Candi/detikcom
Tak semua pelanggan warkop hanya nge-game. Ada sejumlah mahasiswa yang serius mengerjakan tugas. Sekitar warkop milik Gundul memang berdekatan dengan Universitas 17 Agustus dan Universitas dr Soetomo.

"Kalau malam, banyak mahasiswi ngerjain tugas. Mungkin karena kalau malam udah dikit laki-lakinya, jadi mereka mau datang," jelas Gundul.

Warkop di Jalan Nginden cuma bagian kecil dari fenomena di Surabaya. Di sudut lain, Jl Banyuurip, Sawahan, misalnya. Warkop merakyat berjejeran. Tiap 50 meter, ada warkop. 'Senjata' mereka hanya WiFi. Jualannya kopi dan minuman sachet dan cemilan ala kadarnya. (trw/trw)