DetikNews
Minggu 18 Maret 2018, 22:36 WIB

Pakai Manajemen Tanam, Petani Cabai Banyuwangi Untung Besar

Ardian Fanani - detikNews
Pakai Manajemen Tanam, Petani Cabai Banyuwangi Untung Besar Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Banyuwangi dikenal sebagai sentra cabai. Tak hanya di utara kota Banyuwangi seperti Kecamatan Wongsorejo, di Selatan kota petanu juga meraup untung dengan harga cabai yang melambung mencapai Rp 60 ribu perkilogramnya.

Imam Badrus, Ketua Kelompok Tani Ketileng Makmur, Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, mengatakan, biaya produksi mulai pupuk hingga perawatan, per pohon menghabiskan Rp 5.000. Satu pohon bisa menghasilkan 5-6 ons atau setengah kilogram cabai.

"Satu hektare lahan di desa ini 18.000 pohon cabai. Beda dengan desa sentra cabai lainnya di Banyuwangi, seperti Wongsorejo, yang mungkin lebih banyak karena jarak antar pohon lebih rapat," kata Badrus kepada wartawan, Minggu (18/3/2018).

Dia menyebut, biaya produksi satu hektare lahan cabai rata-rata Rp 90 juta. Dengan harga jual petani Rp 50.000 per kilogram, satu pohon cabai bisa menghasilkan Rp 25.000. Apabila 18.000 pohon cabai bisa menghasilkan Rp 450 juta.

Dengan demikian keuntungan pemilik lahan cabai berlipat-lipat. Apabila dipotong biaya produksi, keuntungannya bisa mencapai Rp 360 juta per hektare. "Kalau soal keuntungan, ya banyak banget. Alhamdulilah," kata Badrus tersenyum.

Badrus mengatakan, bersama Dinas Pertanian Banyuwangi, kelompoknya mencari celah saat menanam cabai. Panen bulan ini merupakan hasil tanam pada September hingga Oktober tahun lalu.

"Kami atur waktu perkiraan panennya agar dapat harga terbaik. Misalnya yang panen sekarang ini, adalah hasil kami tanam Agustus-Oktober 2017. Alhamdulillah sesuai perkiraan harga sekarang sangat baik. Intinya, petani jangan latah, tapi harus tahu di mana celah waktunya," tambah Badrus.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta agar manajemen penanaman tersebut dijaga. Siklus harga cabai sudah diketahui, sehingga saat menanam bisa diperkirakan masa panen saat harga mahal. "Saya rasa manajemen di kelompok tani sudah bagus," kata Anas.

Anas mengatakan masa panen di Banyuwangi sudah sepanjang tahun. Karena banyak daerah di Banyuwangi merupakan penghasil cabai, terutama Wongsorejo yang merupakan daerah sentra cabai Banyuwangi sekaligus nasional.

"Hanya saja karakteristik tiap daerah berbeda. Di Wongsorejo bisa panen sepanjang tahun, berbeda dengan di sini. Jadi kita harus benar-benar atur," kata Anas.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan, mengatakan, cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. Pemerintah daerah telah menandatangani kerja sama dengan kelompok tani, salah satunya di kawasan selatan Banyuwangi untuk turut mengendalikan inflasi.

Bentuk kerja samanya, pemerintah daerah memberikan bantuan pertanian, lalu petani diminta menjual sebagian hasil panennya pada pemerintah untuk keperluan cadangan operasi pasar dengan harga yang telah disepakati bersama. Kesepakatan harga tersebut ditandatangai kedua belah pihak sebelum masa tanam dimulai.

"Tentunya harga yang kami tawarkan tidak akan merugikan petani, sudah menguntungkan petani. Jadi petani tetap untung, harga pasar juga tetap bisa dikendalikan," terang Arief.
(bdh/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed