DetikNews
Kamis 15 Maret 2018, 10:26 WIB

BI Sebut Peredaran Uang Meningkat Jelang Pilkada 2018

Muhammad Aminudin - detikNews
BI Sebut Peredaran Uang Meningkat Jelang Pilkada 2018 Foto: Deny Prastyo Utomo
Malang - Bank Indonesia menyebut peredaran uang meningkat selama proses Pilkada. Hal ini akan terus berjalan hingga pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019 mendatang.

Peningkatan dikarenakan kontestasi Pilkada melibatkan APBN maupun APBD serta partisipasi pasangan calon yang maju di Pilkada.

"Tentunya semua kegiatan baik politik atau non-politik akan ada dampaknya (peredaran uang, red). Apalagi ini (Pilkada) melibatkan APBN dan APBD serta partisipasi paslon, pastinya menambah peredaran uang baik tunai maupun non-tunai," terang Kepala BI wilayah kerja Malang, Dudi Herawadi kepada wartawan, Kamis (15/3/2018).

Meski demikian, Dudi tak bisa menyebut berapa besar kenaikan uang yang beredar saat ini. "Diprediksi atau estimasi berapa nggak paham. Yang jelas siap memenuhi kebutuhan," tegasnya.

Peredaran uang menjelang Pilkada serentak 2018, kata dia, juga dibuktikan dengan temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) beberapa waktu. Menurut laporan tersebut, sejak Febuari 2018 sudah ada beberapa transaksi yang ditengarai untuk kepentingan Pilkada.

"Baru-baru ini, Wakil PPATK juga menyebut sejak Februari 2018, ada transaksi ditengarai terkait dengan kepentingan Pilkada. Itu PPATK yang nyebut," bebernya.

Ia pun kembali menegaskan, hal terpenting adalah BI, khususnya di wilayah kerjanya, telah menyiapkan dana dan tidak kekurangan dalam memenuhi kebutuhan. "Kami yang penting itu, jangan sampai kekurangan," tandasnya.

Dikatakan, untuk wilayah kerja BI Malang, ada tiga daerah yang akan melaksanakan Pilkada serentak, yakni Kota Malang, Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan. Untuk Pasuruan, peredaran uang non-tunai (kliring) mencapai rata-rata Rp 2 triliun. "Malang jelas dua kali lipat dari itu," tuturnya.

Kendati demikian, untuk melihat peningkatan peredaran uang, baik non-tunai maupun tunai secara tepat, ia harus melihat grafik data lembaga yang dipimpinnya terlebih dahulu. "Data jelasnya, nanti biar dilihat baik itu non tunai ataupun tunai," sambungnya.

Melihat statistik kliring kredit (uang keluar) di website resmi BI (www.bi.go.id), untuk wilayah Malang mencapai Rp 1,2 triliun pada bulan Febuari 2018, di tahun 2017 dengan bulan yang sama mencapai Rp 1,1 trilun, Pasuruan Rp 303 miliar, dan Probolinggo Rp 222 miliar. Sementara di bulan Januari 2018, kliring kredit untuk Malang mencapai Rp 1,4 triliun, Pasuruan Rp 354 miliar, dan Probolinggo Rp 257 miliar.
(lll/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed