DetikNews
Selasa 13 Maret 2018, 08:03 WIB

Perajin Tusuk Sate Ini Menghabiskan 1,5 Ton Bambu/Bulan

Charolin Pebrianti - detikNews
Perajin Tusuk Sate Ini Menghabiskan 1,5 Ton Bambu/Bulan Perajin tusuk sate/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Ponorogo yang terkenal dengan makanan khasnya sate, ternyata membawa peluang usaha sendiri bagi sebagian warga bumi reog. Seperti yang dilakukan Didik (36) warga Desa Turi, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Didik salah satu pembuat tusuk sate beromzet Rp 12 juta/bulan.

"Tiap bulan saya mampu menghabiskan 1,5 ton bambu untuk dijadikan tusuk sate," tutur Didik saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/3/2018).

Didik menjelaskan sejak dua tahun terakhir, dirinya terjun menjadi pembuat tusuk sate karena tergiur banyaknya permintaan tusuk sate. Bahan yang digunakan bambu jenis ori dan petung. Untuk bambu jenis petung, dia datangkan dari Wonogiri. Sedangkan ori banyak pemasok dari Ponorogo sendiri.

Modal yang dia gunakan untuk usaha ini tidak tanggung-tanggung, sekitar Rp 100 juta. Mulai dari beli bambu, alat membuat tusuk, belerang dan membayar pekerja.

Perajin tusuk sate di Ponorogo/Perajin tusuk sate di Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti


Saat ini Didik tidak hanya membuat tusuk sate saja, dia juga membuat tusuk sempol, jajanan yang sedang melejit di Ponorogo. "Ukuran tusuk sate pun bermacam-macam tergantung permintaan pelanggan. Ada yang 20 cm panjangnya, ada yang 25 cm dan 30 cm," terang Didik.

Dibantu tiga orang, dalam satu hari Didik mampu memproduksi satu kwintal tusuk sate basah. "Tusuk sate yang sudah jadi tidak bisa langsung dipasarkan tapi harus dikeringkan terlebih dahulu," ujar Didik.

Sementara itu ada yang berbeda produksi tusuk sate Didik dibanding yang lainnya. Tusuk sate buatan Didik lebih awet dan tidak mudah berjamur. Pasalnya ada proses penguapan dengan menggunakan belerang. "Tusuk sate buatan saya bisa tahan 6 bulan tanpa berjamur," papar Didik.

Saat ini akibat musim penghujan yang terus menerus melanda Ponorogo, Didik pun membeli oven untuk mengeringkan tusuk sate buatannya. "Karena hujan hampir tiap hari saya kesulitan saat proses pengeringan, jadinya sekarang pakai oven supaya cepat pengeringannya," imbuh Didik.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed