"Saya kenal beliau sosok yang ulet berjuang. Beliau istikhomah dalam membimbing umat," kata Gus Ipul di sela-sela mengantar jenazah di peristirahatan terakhirnya kompleks makam keluarga di Pesantren Madrasatul Quran, Tebuireng, Jombang Jumat 9 Maret 2018.
Saat menjadi ketua umum Muslimat NU maupun setelah tidak lagi menjadi ketua Muslimat, Nyai Aisyah Hamid Baidhowi adalah tokoh yang sangat rajin bersilaturahmi ke berbagai kalangan.
"Setiap datang ke mana saja, beliau tidak langsung pulang. Beliau selalu datangi semua," ujar Gus Ipul, Jumat (9/3/2018).
Baca juga: Adik Kandung Gus Dur Dimakamkan di Tebuireng |
Foto: istimewa |
Silaturahmi tidak hanya dilakukan kepada tokoh NU, bahkan berbagai kalangan maupun lintas agama juga didatangi untuk bersilaturahmi.
"Saya biasa memanggil beliau Bulik Is karena kami memang bersaudara dari garis ibu. Beliau ini setiap ke Jombang, tidak akan langsung pulang sebelum mendatangi semua yang beliau kenal," kenang Gus Ipul.
Mantan Ketua GP Ansor dua periode ini mengatakan, semasa hidupnya Nyai Aisyah Hamid juga dikenal sebagai tokoh penggerak emansipasi dengan memperjuangkan lahirnya Undang-undang tentang kesetaraan gender.
Sementara itu, Bersama istrinya Fatma Saifullah Yusuf, Gus Ipul melakukan takziah dan langsung menuju makam untuk ikut melakukan prosesi pemakaman. Mengenakan sarung dan baju putih, Gus Ipul juga tak canggung membantu prosesi pemakaman kemudian melakukan tabur bunga dan berdoa.
Aisyah Hamid meninggal dunia pukul 12.50 WIB, Kamis 8 Maret 2018. Aisyah Hamid adalah adik kandung KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang juga putri dari Pahlawan Nasional Abdul Wahid Hasjim.
Prosesi pemakaman diikuti ribuan warga dan santri Tebuireng. Puluhan karangan bunga juga dikirimkan sebagai bentuk penghormatan salah satunya bunga dari Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno. (iwd/bdh)












































Foto: istimewa