DetikNews
Rabu 07 Maret 2018, 18:31 WIB

Pengubahan Nama Jalan Diprotes, Ini Sejarah Dinoyo dan Gunungsari

Deni Prastyo Utomo - detikNews
Pengubahan Nama Jalan Diprotes, Ini Sejarah Dinoyo dan Gunungsari Foto: Deni Prastyo Utomo/detikcom
Surabaya - Pergantian dua nama jalan di Surabaya diprotes pemerhati sejarah dan budaya Surabaya. Pergantian nama jalan itu sama saja dengan melupakan sejarah.

"Ada dua topik yang mesti kita cermati, yang pertama kata Bung Karno, jasmerah (jangan melupakan sejarah) dan kedua jangan menghapus sejarah. Surabaya ini memiliki catatan-catatan yang muncul dari bawah. Memori kolektif dari arus bawah akan terangkat jika memunculkan nama Dinoyo, Jagalan, Kepatihan, bahkan Kembang Jepun," kata Fredi kepada detikcom di Jalan Dinoyo, Rabu (7/3/2018).

Menurut salah seorang pemerhati sejarah dan budaya Surabaya Freddy H Istanto, sebelum menjadi Jalan Dinoyo, jalan itu dimiliki oleh orang Arab. Jalan itu akhirnya berkembang sekitar tahun 1850-an dan mempunyai nama Dinoyo. Sayang Freddy belum tahu arti dari kata Dinoyo.

"Bahkan orang Belanda dulu tidak pernah menganti nama jalan lama dengan nama baru. Belanda hanya membuat jalan-jalan baru dengan nama-nama baru pula," kata Freddy..

Mengapa Belanda tak mau mengganti nama jalan lama, karena Belanda sangat menghargai spirit of place, kekuatan lokal. Kearifan lokal menjadi semangat suatu jalan. "Jadi jalan bukan sekadar nama, tapi merupakan spirit (semangat)," ujarnya.

Freddy mengatakan bahwa Jalan Dinoyo yang sudah berumur ratusan tahun tersebut sudah memiliki catatan sejarah. Baik itu nilai sejarah dari warga Dinoyo sendiri dalam scope kecil maupun secara luas bagi warga Surabaya.

"Kalau ingin memberi nama jalan baru di Surabaya, buatlah jalan-jalan baru yang ada di pinggiran Surabaya. Jangan jalan yang sudah melekat di memori warga dihapus begitu saja oleh penguasa," kata Freddy.


Jalan DinoyoJalan Dinoyo (Foto: Deni Prastyo Utomo)

Pemerhati sejarah Surabaya yang lain, Kuncarsono Prasetyo mengatakan bahwa Jalan Dinoyo merupakan bagian dari Jalan Daendels yang dibangun Gubernur Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Dulu, kawasan Dinoyo juga dipakai sebagai jalur trem oleh pemerintah kolonial Belanda.

"Jalan Dinoyo adalah jalan yang dibangun Daendels. Jalan ini dulunya memang menghubungkan antar kota, sehingga jadi jalan provinsi," kata Kuncarsono.

Untuk Jalan Gunungsari, Kuncarsono mengatakan bahwa nama Gunungsari didapatkan karena letak geografis kawasan tersebut lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Kawasan itu dulunya merupakan sebuah bukit. Karena di Surabaya tak ada gunung, maka bukit itu pn disebut Gunung dan terciptalah nama Gunungsari.

Gunungsari punya cerita sejarah yang penting dalam pertempuran 10 November. Gunungsari merupakan tempat terakhir arek-arek Suroboyo bertahan dari gempuran musuh. Bila terpaksa mundur karena serangan musuh, maka Gunungsari adalah tempatnya.

"Karena topomini nya yang berbukit-bukit membuat Gunungsari cocok dijadikan tempat bertahan. Di Gunungsari ini banyak makam-makam para pahlawan yang turut berjuang melawan sekutu," kata Kuncarsono.

Dengan begitu banyak memori kenangan dan sejarah, Kuncarsono menyayangkan keputusa Gubernur Jatim Soekarwo yang dengan begitu mudahnya menganti nama Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari.

"Soal wewenang boleh. Tapi nilai historinya bakal hilang. Karena nama jalan ketika dipublish adalah sudah menjadi milik publik, karena kita yang punya kota yang punya sejarah," ungkap Kuncarsono.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan bertemu untuk harmonisasi Sunda-Jawa. Salah satu pembicaraannya adalah perubahan nama jalan.

Di Surabaya akan ada nama Jalan Pasundan dan Siliwangi. Sementara di Bandung akan ada nama Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk. Kedua nama jalan di Surabaya yang akan diganti yakni Jalan Gunungsari diubah menjadi Jalan Siliwangi, dan Jalan Dinoyo menjadi Jalan Pasundan.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed