DetikNews
Selasa 06 Maret 2018, 15:22 WIB

Cerita Brigadir Gatot, Polisi Plus Guru Ngaji

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Cerita Brigadir Gatot, Polisi Plus Guru Ngaji Foto: Istimewa
Pacitan - Kesibukan bertugas tak harus menjadi alasan mengabaikan panggilan agama. Seperti halnya yang dilakukan Gatot Dwi Ananto (32), anggota Polsekta Pacitan. Polisi berpangkat brigadir itu memilih jalan hidup menjadi guru mengaji di antara padatnya tugas sebagai Bhabinkamtibmas.

"Alhamdulillah, rumah, isteri, anak, pekerjaan, Allah sudah berikan semuanya. Lalu apalagi yang saya cari selain bekal untuk akhirat?" tutur Gatot mengawali cerita, Selasa (6/3/2018) siang.

Dorongan spiritual itu membawa Gatot pada keputusan menebarkan nilai kebaikan kepada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya di RT 05 RW 11 Lingkungan Teleng, Kelurahan Sidoharjo, Kota Pacitan.

Awalnya hanya ada 6-7 anak yang tiap hari belajar mengaji di rumah Gatot. Kala itu Arifah Ulinuha, isteri Gatot yang lebih sering membimbing mereka. Arifah yang seorang hafidzah Quran juga seorang guru di RA Al Huda, Kelurahan Ploso.
Cerita Brigadir Gatot, Polisi Plus Guru NgajiFoto: Istimewa

Melihat antusiasme para santri cilik itu, hati Gatot pun tersentuh. Tiap Minggu pagi, Gatot dan isteri mengajak mereka bersepeda keliling kampung. Sesekali ia membelikannya makanan ringan. Rupanya, pendekatan yang ia lakukan menuai simpati anak-anak lain. Dari hari ke hari jumlah santri pun terus bertambah.

"Sekarang sudah sekitar 25 orang," katanya kepada detikcom.

Lantaran jumlah santri makin membludak, Gatot akhirnya memindahkan kegiatan mengajinya ke Masjid Bahrun Najah yang berada tak jauh dari rumahnya. Belakangan Gatot sendiri lebih banyak menghabiskan waktu tiap ba'da maghrib bersama anak-anak tersebut. Mereka tak hanya diajari mengaji tapi juga ilmu agama, termasuk di antaranya budi pekerti.

"Kita biasakan kalau ketemu orang tua bersalaman dan cium tangan. Nilai-nilai seperti itu juga terus kita tanamkan," papar pria kelahiran Semarang, 7 Februari itu.

Gatot sadar tantangan kehidupan makin kompleks. Penanaman akhlak mulia menjadi salah satu keharusan untuk membentengi generasi mendatang dari dampak negatif modernisasi. Gatot berharap, meski belum seberapa, nilai keagamaan yang diterima anak-anak itu akan tertanam kuat hingga mereka dewasa kelak.

"Saya merasa belum apa-apa, belum banyak berbuat. Masih banyak yang harus kita lakukan untuk anak-anak kita," ucapnya.

Menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan orang tua santri, diakui Gatot, juga menjadi kunci keberlangsungan belajar mengajar di tempat yang ia sebut TPA (Taman Pendidikan Al Quran) itu. Sebab sesekali ia harus menjelaskan kepada orang tua jika pertanyaan bernada protes karena anaknya tak kunjung naik tingkat. Tidak itu saja, cenderamata bagi santri merupakan pernik wajib yang ia beli tiap menerima tunjangan Bhabinkamtibmas.

"Kita sisihkan sebagian rezeki. Kita belikan kaos dan sejenisnya. Alhamdulillah, anak-anak suka," imbuh putra pasangan Jayus Sungkowo dan Suparti tersebut.
Cerita Brigadir Gatot, Polisi Plus Guru NgajiFoto: Istimewa

(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed