Saat Puti Dicurhati Anak-anak TKI di Tulungagung

Pilgub Jatim 2018

Saat Puti Dicurhati Anak-anak TKI di Tulungagung

Adhar Muttaqin - detikNews
Selasa, 27 Feb 2018 21:25 WIB
Cawagub Puti bertemu dengan komunitas Forum Anak Desa (FAD)/Foto: Adhar Muttaqin
Tulungagung - Selama dua hari berkampanye di Tulungagung, Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno mengunjungi 14 lokasi maupun komunitas. Salah satunya bertemu dengan Forum Anak Desa (FAD) di Kabupaten Tulungagung.

Pertemuan dilakukan paslon nomor urut dua ini untuk menyerap aspirasi keinginan para anak terhadap program pemimpin Jawa Timur ke depan. FAD merupakan sebuah organisasi beranggotakan anak muda bentukan pemerintah Kabupaten Tulungagung yang bertujuan menjadi wadah aspirasi anak. FAD juga terlibat dalam setiap musyawarah rencana pembangunan desa (musrenbangdes).

Dari forum diskusi tersebut terungkap bahwa satu di antara masalah yang dihadapi anak adalah kurangnya pola asuh orang tua. Sebab, orang tua banyak menjadi buruh migran di luar negeri dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun TKW.

"Akibat dari kurangnya pola asuh anak tersebut membuat banyak anak berlaku menyimpang. Mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga minum minuman keras," ujar Reza Pahlevi, salah satu anggota FAD Kabupaten Tulungagung, Selasa (27/2/2018).

Tak hanya menimbulkan gejala sosial, masalah itu juga memicu kekerasan pada anak. Bahkan banyak anak yang akhirnya diasuh oleh orang lain, bukan orang tuanya sendiri, yang berujung adanya kekerasan.

Dalam forum ini terdapat seorang gadis anggota FAD yang juga merupakan anak TKI. Ia membeberkan suka duka menjadi anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sudah ditinggal sang orang tua sejak SD.

"Beruntung saya tidak seperti teman-teman yang lain, yang merasakan dampak negatif ditinggal orang tua bekerja di luar negeri," ujarnya usai mengenalkan diri.

Menurutnya, sejak kecil ia harus tinggal bersama sang kakek dan memenuhi segala kebutuhannya seorang diri. Sehingga sering kali ia merasakan kerinduan terhadap belaian kasih sayang langsung kedua orang tuanya.

"Sebenarnya, kami tak ingin dispesialkan oleh pemerintah. Perlakukan kami seperti anak-anak yang lain. Dengan begitu, setidaknya kami bisa melupakan masalah kami di rumah. Itu saja," katanya sambil berurai air mata.

Puti sendiri mengaku kagum dengan kegigihan anak-anak TKI dalam menjalani hidup. "Kamu hebat nak," ujarnya.

Menurutnya, banyaknya TKI/TKW yang bekerja di luar negeri disebabkan karena masalah ekonomi. Untuk mengurangi ekspor buruh migran, satu yang akan dilakukan pasangan Gus Ipul-Puti apabila terpilih sebagai kepala daerah adalah meningkatkan sektor ekonomi di daerah.

"Kami akan mengutamakan peningkatan ekonomi. Kalau di sini ada lapangan pekerjaan, maka tak akan berpindah ke luar negeri dengan menjadi TKI," katanya.

Sedangkan terhadap anak terlanjur ditinggalkan oleh orangtuanya bakal diberikan pendampingan melalui program Rembulan (Program sosial untuk pemuliaan perempuan, anak, dan lansia) dan Bersinar (Berkebudayaan, Rukun, dan Seniman Makmur).

"Kami akan memfasilitasi anak dan ibu, terutama bagi anak yang orang tuanya menjadi TKI. Sebab, di Tulungagung angka TKI ini cukup tinggi," jelas Puti.

Menurutnya, hal tersebut akan memberikan dampak pertumbuhan yang lebih positif pada anak-anak. Karena apabila tidak tertangani dengan baik, bisa berdampak negatif, seperti kenakalan remaja. (iwd/iwd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.