DetikNews
Senin 26 Februari 2018, 12:27 WIB

Investasi Bodong Rugikan Negara Hingga Rp 100 Triliun

Yakub Mulyono - detikNews
Investasi Bodong Rugikan Negara Hingga Rp 100 Triliun Investasi Foto: Yakub Mulyono
Jember - Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang investasi keuangan yang legal dan logis membuat investasi bodong banyak bermunculan. Bahkan kerugian negara akibat investasi bodong ini mencapai Rp 100 triliun.

"Penyebabnya pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan masih rendah," kata Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat Ahmad Hidayat usai Diskusi Publik Nasional 'Pengelolaan Investasi Keuangan yang Legal dan Logis' di Hall Hotel Panorama, Jember, Senin (26/2/2018).

Hidayat mengakui perlu adanya perbaikan banyak pihak untuk menyadarkan masyarakat. Sebab kurangnya literasi inilah yang kemudian banyak masyarakat terjebak dalam investasi bodong atau ilegal yang sangat merugikan.

"Perlu upaya untuk menghindarkan masyarakat dari praktik penawaran investasi dari pihak tidak bertanggung jawab," jelasnya.

Apalagi, selama beberapa tahun praktik investasi bodong ini menjamur di negeri ini. Sehingga masyarakat yang dirugikan semakin banyak. Kerugian yang dialami dari investasi bodong ini nilainya juga tidak main-main. "Selama beberapa tahun terakhir negara dirugikan hingga Rp 100 triliun," lanjut Hidayat.

Hal ini disebabkan investasi bodong yang terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Modus yang sering dipakai adalah dengan tawaran keuntungan investasi yang cukup tinggi dalam waktu yang singkat.

"Sehingga masyarakat mudah tergiur. Padahal keuntungan tersebut tidak masuk akal. Jika ada investasi dengan nilai tidak wajar, wajib dicurigai," imbau Hidayat.

Bahkan sebagai daya tarik, promosi biasanya menggunakan tokoh masyarakat atau public figure. Sehingga OJK memberi peringatan kepada masyarakat untuk mempelajari secara detail lembaga keuangan yang menawarkan investasi, agar tidak tertipu.

OJK sendiri kini mensinyalir ada sekitar 150 lembaga keuangan dan investasi yang belum diketahui legalitas dan pengawasannya. "Ini sudah diumumkan di investor alert portal website SikapiUangMu OJK," tegas Hidayat.
(iwd/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed