DetikNews
Kamis 22 Februari 2018, 12:21 WIB

Bulog Akui Serapan Gabah Petani di Ponorogo Belum Maksimal

Charolin Pebrianti - detikNews
Bulog Akui Serapan Gabah Petani di Ponorogo Belum Maksimal Kasub Divre XIII Ponorogo, Anita Andreani/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Bulog belum melakukan penyerapan gabah petani. Pasalnya, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) masih rendah sekitar Rp 7.300 padahal harga beras di pasar mencapai Rp 9 ribu.

Akibat harga tersebut, Bulog dipastikan baru akan melakukan penyerapan gabah petani saat memasuki panen raya. "Mengingat saat ini Ponorogo belum memasuki panen raya sehingga jumlah ketersediaan gabah juga masih sedikit," jelas Kasub Divre XIII Ponorogo, Anita Andreani saat ditemui detikcom, Kamis (22/2/2018).

Ia menambahkan sesuai Inpres No 5 tahun 2015, HPP yang ditetapkan sebesar Rp 7.300 jauh lebih rendah jika dibandingkan harga beras saat ini yang mencapai Rp 9 ribu/kg.

"Ini juga jadi penyebab penyerapan kurang maksimal karena harga beras di pasaran masih tinggi dibandingkan dengan HPP," ujarnya.

Meski mempengaruhi pencapaian yang telah ditargetkan dalam pemenuhan stok yakni sebesar 50 ribu ton namun bulog memilih menunggu hingga panen raya untuk memaksimalkan penyerapan. Melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) bulog juga terus mencari informasi daerah-daerah yang mulai panen raya. "Dengan harapan bisa mendapatkan harga yang lebih rendah," imbuhnya.

Ketersediaan beras yang dimiliki bulog Sub Divre 13 ponorogo saat ini sebesar 3 ribu ton, jumlah tersebut cukup untuk stok selama tiga bulan. Sementara sebagian besar lahan pertanian padi di Ponorogo belum memasuki masa panen.

"Rata-rata tanaman padi baru berumur 60 hingga 85 hari bahkan baru sebagian kecil yang tampak mulai berbuah," tukasnya.

Sementara salah satu warga, Puji Hastuti mengaku masih keberatan dengan harga beras yang masih saja melambung tinggi. Ia pun berharap pemerintah segera turun tangan guna mengatasi harga beras. "Beras sekarang mahal, apa-apa mahal jadi bingung mau masak apa. Harapannya ingin agar segera turun," terangnya.

Ibu dua anak ini pun menambahkan jika dirinya setiap hari juga bekerja sebagai buruh tani. Namun sayang penghasilan dan pengeluarannya tidak sebanding akibat melambungnya harga kebutuhan pokok seperti beras. "Harga beras masih terlalu tinggi buat saya," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed