DetikNews
Kamis 15 Februari 2018, 08:32 WIB

Penangkaran Burung Merak

Kisah Surat, Pernah Terpaksa Jual Merak untuk Beli Pakan

Sugeng Harianto - detikNews
Kisah Surat, Pernah Terpaksa Jual Merak untuk Beli Pakan Salah satu merak yang ada di penangkaran milik Surat Wiyoto di Madiun. (Foto: Sugeng Harianto)
Madiun - Susah-susah gampang merawat merak. Begitu kata Surat Wiyoto, pria di balik penangkaran burung merak hijau di Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.

Selama ini, pria berusia 57 tahun itu memilih cara yang tidak lazim untuk menangkar merak-merak miliknya, yaitu dengan merawatnya tak ubahnya memelihara ayam.

Itulah sebabnya ia memberi makan merak dengan pakan yang biasa diberikan kepada ayam, berupa jagung, sayuran, poor atau pelet.

Biaya yang dihabiskan Surat untuk memberi makan merak-meraknya mencapai Rp 1 juta per bulan. Uang tersebut ia peroleh satu tahun sekali dari hasil menjual panen jagung dan ketela yang ditanam di lahan milik Perhutani seluas 2 hektar.

Tak jarang, pria yang hanya tinggal dengan istrinya itu memperoleh dana dari pengunjung yang memberikan uang kepadanya secara sukarela. Uang inilah yang kemudian ia pakai untuk membeli pakan bagi merak-meraknya.

Kisah Surat, Pernah Terpaksa Jual Merak untuk Beli PakanFoto: Sugeng Harianto

Namun suatu ketika, Surat mengalami kesulitan dana untuk membeli pakan karena panen jagung dan ketelanya gagal. Tak disangka ada pengunjung yang datang jauh-jauh dari Jakarta berniat membeli sepasang merak yang dirawat Surat.

"Saya kehabisan uang untuk beli pakan juga. Jadi terpaksa ada yang beli dari Jakarta saya jual saja untuk keperluan beli pakan," kenangnya seperti dikisahkan kepada detikcom, Rabu (14/2/2018).

Saat itu sepasang merak milik Surat dihargai Rp 25 juta. Meski dengan uang itu Surat bisa membeli pakan, ada rasa sesal yang tak pernah hilang dari benaknya.

Surat juga mengeluhkan tidak adanya bantuan dari pemerintah setempat. Padahal tempat penangkaran merak milik Surat telah terdaftar di Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.

"Sama sekali belum pernah dapat bantuan dari pemerintah atau bupati sekalipun. BKSDA dulu cuma membantu perizinan penangkaran saja, sekitar tahun 2010. Hanya dua minggu sekali ke sini mengontrol," tambahnya.


(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed