DetikNews
Kamis 08 Februari 2018, 13:55 WIB

Begini Kesedihan Petani Ngawi di Balik Panen Raya Padi

Sugeng Harianto - detikNews
Begini Kesedihan Petani Ngawi di Balik Panen Raya Padi Ngawi sudah masuk panen raya padi (Foto: Sugeng Harianto)
Ngawi - Petani di Ngawi Jawa Timur menyayangkan sikap pemerintah yang mengimpor beras. Terlebih saat ini Ngawi sudah masa panen raya padi.

"Kalau saya sebagai petani di Ngawi tidak setuju soal impor beras. Jangan sampai impor menjadi bumerang bagi petani, apalagi Ngawi sudah panen padi," jelas Randi, petani warga Dusun Cupo Kelurahan Grudo Kecamatan Ngawi kepada detikcom, Kamis (8/2/2018).

Impor beras yang dilakukan pemerintah, kata Randi, jelas akan mempengaruhi harga gabah yang akan turun drastis. Apalagi saat ini harga gabah sudah mengalami penurunan.

"Sudah pasti kalau impor masuk harga gabah akan turun. Ini pun beras impor belum datang tapi harga gabah sudah turun. Petani belum menikmati kenaikan harga gabah, tapi harga sudah turun," tutur Randi.

Randi menuturkan saat ini harga gabah mengalami penurunan harga. Dari harga gabah panen basah Rp 5.400 kini menjadi Rp 5.300/kg. Sedangkan harga gabah kering sebelum panen sempat tembus harga Rp 6.300/kg saat ini menjadi Rp 6.000/kg.

Randi menambahkan saat ini nasib petani sangat memprihatinkan. Di kala musim tanam kesulitan pupuk. Sedang saat panen harga gabah sangat minim sehingga tidak mencukupi kebutuhan biaya tanam.

Petani Ngawi sedang memanen padiPetani Ngawi sedang memanen padi (Foto: Sugeng Harianto)

"Susah petani pak, waktu tanam pupuk belinya dibatasi. Padahal kami juga akan beli kalau ada pupuk. Sekarang saat panen harga anjlok, gimana nasib petani," pungkasnya.

Hal senada juga di ungkapkan oleh petani lain. Sardi, warga Dusun Pandansari Desa Jururejo Kecamatan ngawi mengaku tidak setuju pemerintah melakukan impor beras. "Jelas kurang setuju. Kalau beras impor datang pasti beras lokal tidak laku," tambah Sardi.

Sementara itu, dari data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Ngawi menyebutkan luas lahan tanaman padi saat ini mencapai lebih dari 52.520 hektar. Areal 52.520 hektar itu tersebar di 221 desa dan kelurahan di 19 kecamatan dengan hasil rata-rata mencapai 7,5 ton/hektar.

"Kalau data angka pertanian padi di Ngawi lebih dari 52 ribu hektar tersebar di 221 desa kelurahan untuk hasil rata-rata 7,5 ton per hektar," jelas koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan POPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Edi Suwarno.

Edi menambahkan saat ini petani Ngawi tudak membutuhkan beras impor untuk menjaga kestabilan harga panen yang saat ini panen raya. "Yang jelas petani tidak perlu beras impor agar harga gabah stabil tidak turun," pungkasnya.
(iwd/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed