DetikNews
Selasa 06 Februari 2018, 18:09 WIB

Salep Daun Katuk Bikinan 3 Siswa Ini Diklaim Cepat Sembuhkan Luka

Charoline Pebrianti - detikNews
Salep Daun Katuk Bikinan 3 Siswa Ini Diklaim Cepat Sembuhkan Luka 3 Siswa yang berhasil membuat salep berbahan daun katuk (Foto: Charolin Pebrianti)
Ponorogo - Daun katuk telah lama dikenal khasiatnya, terutama dalam meningkatkan produksi ASI bagi ibu menyusui. Namun ternyata daun katuk memiliki manfaat lain.

Adalah tiga siswa SMAN 3 Ponorogo: Risida Eka Dika Murti (16), Francika Kirana Bella (16), dan Della Ramadani (17) yang berhasil membuat inovasi salep dan krim dari daun katuk. Salep ini bermanfaat untuk mempercepat proses penyembuhan insisi kronis (borok) pada mencit.

Sebagai ketua kelompok, Francika menuturkan, gagasan untuk memanfaatkan daun katuk muncul ketika mereka melihat melimpahnya daun katuk di sekitar tempat tinggal mereka. Belakangan diketahui jika daun ini memiliki kandungan flavonoid yang tinggi.

"Biasanya kan masyarakat Indonesia luka diolesi kimia. Kalau sering digunakan tidak sehat sehingga butuh yang herbal," tuturnya kepada detikcom saat ditemui di sekolahnya, Selasa (6/2/2018).

Francika pun memastikan salepnya benar-benar terbuat dari bahan alam seperti daun katuk, etanol dan vaselin. Agar menjadi salep, daun katuk diblender dengan etanol kemudian disaring. Setelah itu dipanaskan agar bisa diekstrak lantas ditetesi etanol. Barulah bahan-bahan itu dicampur dengan vaselin.
Salep dan krim daun katuk untuk penyembuh luka bikinan siswa SMAN 3 Ponorogo. (Foto: Charolin Pebrianti)Salep dan krim daun katuk untuk penyembuh luka bikinan siswa SMAN 3 Ponorogo. (Foto: Charolin Pebrianti)

Sebagai pembanding, timnya juga membuat krim berbahan dasar daun katuk. Bahan krimnya antara lain daun katuk, etanol, vaselin, gliserin, BHT, NaOH, asam sitrat dan air.

"Cara membuat krim, NaOH kemudian dilarutkan dengan cara dipanaskan kemudian dicampur ekstrak. Setelah itu ditambahkan gliserin dan asam sitrat," urai Francika.

Untuk membuat salep dan krim daun katuk ini, lanjut Francika, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam saja.

Francika menambahkan, salep buatannya tidak mempunyai efek samping ketika digunakan. Menurutnya, ini karena pH (keasaman) dari salep daun katuk tersebut lebih rendah dari pH kulit. "Tapi krim dan salep ini bisa tahan hingga 3 bulan," imbuhnya.

Hanya saja, untuk saat ini, salep dan krim tersebut baru diujicobakan pada mencit atau tikus putih, sehingga belum dapat diaplikasikan kepada manusia.

Meski demikian, salep dan krim dari daun katuk inovasi siswa SMAN 3 Ponorogo ini telah menggondol piala juara 3 dalam kejuaraan karya ilmiah tingkat provinsi yang digelar oleh IAIN Tulungagung beberapa waktu lalu. Salep ini berhasil menyisihkan inovasi yang dibuat oleh 74 tim lainnya dari seluruh penjuru Jawa Timur.
(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed